fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Contoh Pembelajaran Matematika di SD Berbasis Konstruktivisme

Naskah yang membahas contoh konkret pembelajaran matematika di SD ini pernah dimuat di majalah Median yang diterbitkan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Popinsi Jawa Timur. Jika Anda ingin membaca, sudi kiranya mengklik pada kata berikut DownLoadArtikelKonstruk. Jika Anda memiliki komentar, sudi kiranya mengklik judul artikel di atas lalu memberi komentar di bawah ini.

September 24, 2007 - Ditulis oleh fadjarp3g | Artikel | , | & Komentar

& Komentar »

  1. Ass…mohon ijin dan minta tolong,saya mahasiswa MTK UNTIRTA BANTEN semt 7 insyallah saya mau nyusun skripsi,saya minta bantuan saudara sekalian untuk memberikan artikel,makalah atau bahan – bahan yang kaitannya dengan teori konstruktif pembelajaran/pendekatan konstruktif

    Komentar oleh muhamad naser | September 30, 2007 | Balas

  2. Wass. Maaf terlambat Mas M. Naser. Anda dapat menggunakan artikel di situs ini sesuai kebutuhan Anda, namun biasanya dengan menuliskan sumbernya jika Anda mengutip atau merujuk seperti lumrah dilakukan pada penulisan ilmiah.
    Saya sebetulnya memiliki beberapa makalah atau bahan-bahan yang berkait dengan teori belajar yang dikenal dengan konstruktivisme maupun pembelajaran/pendekatan kontekstual atau realistik. Namun dalam bentuk buku/makalah, sehingga Anda harus memfotokopi.

    Komentar oleh fadjarp3g | Oktober 8, 2007 | Balas

  3. ass.saya mau minta tolong dicarikan judul penelitian yang ada hubungannya dengan asesmen kinerja atau asesmen autentik dengan menerapkan pbk. model pembelajaran apa yang sesuai dengan penggunaan asesmen kinerja ini?

    ada ga cara mengajarkan pembagian bilangan bulat pada anak SD yang mudah dipahami?

    Komentar oleh jumrana | Oktober 24, 2007 | Balas

  4. Wass.
    Pak Jumrana, terima kasih.
    Dengan adanya BSNP, semua istilah sudah dibakukan sehingga sebaiknya Bapak mengacu keopada beberapa istilah yang sudah baku tersebut; seperti beberapa istilah yang ada di:
    1. PP no 19 tahun .,.. tentang SNP. Kalau tidak salah istilahnya adalah penoilaian unjuk kerja
    2. standar penilaian yang sudah ditetapkan Mendiknas.

    Mengenai judul penelitian sebaiknya berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya saja.
    Contoh asesmen kinerja (unjuk kerja) adalah meminta siswa mendeklamasikan, berpidato, dlsb yang dapat diobservasi gurunya.
    Issu pembelajaran matematika sesungguhnya terletak pada pahm tidaknya siswa. Karena itu issu yang berkembang adalah pendekatan realistik atau kontekstual.
    Akibat selanjutnya, cara mengajarkan pembagian bilangan bulat pada anak SD sangat beragam. Namun dari contoh2 yang akan disajikan adalah penting untuk menyimpulkan konsepnya bahwa pembagian adalah pengurangan berulang. Cointohnya jika dengan pendekatan kontekstual atau realistik, dapat dimulai dengan memberikan masalah kontekstual atau realistik berikut:
    1. Amir memiliki 6 kelereng. Kelereng-Kelereng tersebut dibagikan kepada 2 orang. Berapa kelereng yang diterima setiap orang.
    2. Amir memiliki 6 kelereng. Kelereng-Kelereng tersebut dibagikan kepada beberapa orang. Setiap orang mendapat dua kelereng. Ada berapa yang mendapat dua kelereng tersebut.
    Kedua masalah kontekstual atau realistik tersebut akan mengarah ke bentuk matematikanya, yaitu 6 : 2 = 3. Sedangkan prosesnya mengarah kepada konsep bahwa pembagian mrerupakan pengurangan berulang.

    Komentar oleh fadjarp3g | Oktober 27, 2007 | Balas

  5. Ass. Wr. Wb
    Salam kenal. boleh gabung gak pak? Mohon informasi tentang strategi yang jitu utk mengajarkan pecahan bagi siswa SD. Trims.
    Wassalam

    Komentar oleh Harti Kartini | Maret 10, 2008 | Balas

  6. wAss. Wr. Wb
    Salam kenal juga bu. Terima kasih sudah bergabung. Mudah-mudahan saya atau teman saya bisa mrenulis tentang strategi yang jitu utk mengajarkan pecahan bagi siswa SD. Memang issunya, siswa SD mengalami kesulitan ketika mereka belajar pecahan. Sekali lagoi Trims. Doakan mudah-mudahan saya bisa menulis permintaan ibu.
    Wassalam

    Komentar oleh fadjarp3g | Maret 11, 2008 | Balas

  7. Asw. Bapak Fajar yang dirahmati Allah,saya mohon dibantu untuk makalah matematika SD kelas 5 dan juga strategi yang bagus.Sukron.

    Komentar oleh febby cahya | Maret 21, 2008 | Balas

  8. WAsw. Bapak Febby Cahya yabg yang dirahmati Allah, maaf saya belum terlalu banyak memiliki makalah matematika SD kelas 5 dan juga strategi yang bagus. Sukron.

    Komentar oleh fadjarp3g | Maret 24, 2008 | Balas

  9. ass…saya mahasiswa sem 8, skrg sedang nyusun skripsi tentang pendekatan RME pada pokok bahsan bangun datar, gimana aplikasinya di kelas, dan ada sampai sekarang saya belum menemukan buku khusus tentang RME. apakah ada buku khusus tentang RME??????????

    Komentar oleh aulia | Maret 30, 2008 | Balas

  10. Wass. Wr. Wb. Sebetulnya RME adalah mirip-mirip dengan CTL. Ya ada, cuma sebagian besar masih dalam bahasa inggris. Aulia tinggalnya di mana? kalau di Yogya bisa ngopi buku saya. Ok?

    Komentar oleh fadjarp3g | Maret 31, 2008 | Balas

  11. Ass…
    pak saya mo tanya
    saya kulh jurusan P.Mtk.
    saat ini saya sedang menyusun skripsi yg berjudul peningkatan pemahaman konsep dgn menggunakan suatu metode pembelajaran pada siswa kelas V SD.
    kira-kira untuk menhitung data statistiknya…
    lebih baik menggunakan rumus apa???
    karna skripsi saya menggunakan metode kuantitatif.jd tidak melakukan tindakan lgsung pada siswa.
    cukup sekian az pak…
    mohon bantuan nya…
    Wass…

    Komentar oleh Rima | Mei 12, 2008 | Balas

  12. Wass. wr. wb.
    Kalau menggunakan metode kuantitatif, biasanya membandingkan dua hal. Misalnya satu kelas diajar metode x (metode baru) di kelas X (kelas eksperimen) dan kelas lain dengan metode y (metode lama) di kelas Y. Hasilnya dibandingkan. Biasanya dengan t tes. Ok? Kalau bisa konsultasi dengan dosennya ya.

    Komentar oleh fadjarp3g | Mei 12, 2008 | Balas

  13. pembelajaran konstruktivisme perlu dikembangkan dengan model implementasi kurikulum KTSP pada tingkat sekolah menengah

    Komentar oleh mumu | Mei 17, 2008 | Balas

  14. Terima kasih komentarnya

    Komentar oleh fadjarp3g | Mei 19, 2008 | Balas

  15. ass.
    pak bagaimana menerapkan metode konstruktivisme ini, pada siswa kelas rendah …??
    apakah akan efektif, bila digunakan..apalgi siswa yang berada disekolah terpencil..
    yang kadangkala guru sering mengalami kendala dalam mempersiapkan media pembelajaran dalam menerapkan metode ini..?!?!?! trima kasih atas jawabannya..

    Komentar oleh kifli gorontalo | Mei 19, 2008 | Balas

  16. Wass. Sebagian guru sebetulnya juga sudah sering menggunakan teori belajar konstruktivisme ini. Pendekatan yang digunakan biasanya adalah pendekatan kontekstual atau realistik matematika.
    Untuk perkalian (bilangan 3), guru dapat mengajukan masalah kontekstual seperti ini:
    1 bentor, rodanya ada berapa?
    2 bentor, rodanya ada berapa?
    3 bentor, rodanya ada berapa?
    4 bentor, rodanya ada berapa?
    5 bentor, rodanya ada berapa?
    6 bentor, rodanya ada berapa?
    Bentor yang ditanyakan adalah bentor yang biasa, dengan asumsi setiap bentor beroda 3.
    Ini contoh penerapkan teori belajar konstruktivisme pada siswa kelas rendah.
    Jadi, dengan pertanyaan ini siswa akan belajar menjawab pertanyaan yang konkret aatau real di pikiran siswa. Dari jawaban pertanyaan itu dimunculkan konsep perkalian bahwa:
    4 x 3 = 3 + 3 + 3 + 3
    Jadi, bukan guru yang langsung mengumumkan, namun siswa yang mencapatkan sendiri apa arti 4 x 3. Ok? Lebih jelas ya.

    Komentar oleh fadjarp3g | Mei 19, 2008 | Balas

  17. RME apaan sih pak? pernah dengar tp lupa. tks infonya

    Komentar oleh kurnia | Agustus 19, 2008 | Balas

  18. AWW…
    Sy akan meyusun skripsi, jur sy Pend Mtk, mgkin sy akan sering mhub bpk. Tks sebelumnya.

    Komentar oleh kurnia | Agustus 19, 2008 | Balas

  19. Untuk Mas Kurnia, terima kasih. InsyaAllah saya siap membantu.

    Komentar oleh fadjarp3g | Agustus 20, 2008 | Balas

  20. salam kenal,,,,
    terima kasi atas tulisan bapak saya merasa sangat tertolong karena dalam hal ini saya sedang mencari artikel tentang pendekatan RME,…………
    namun dalam hal ini saya masih membutuhkan saran dari bapak, apakah kelebihan dan kekurangan jika menggunakan pendekatan RME…..
    terima kasih sebelumnya

    Komentar oleh ode | Oktober 15, 2008 | Balas

  21. Salam kenal juga dan terima kasih atas kunjungan dan dukungannya. Beberapa kelebihannya di antaranya adalah siswa yang membangun sendiri pengetahuan sesuai tuntutan konstruktivisme. Contohnya, 3×2 dikaitkan dengan notasi 3×2 tablet yang berarti pada pagi hari makan 2 tab, begitu juga pada siang dan malam hari. Dengan cara seperti ini, diharapkan para siswa akan dapat menyimpulkan dan membangun sendiri pengetahuan bahwa:
    3 x 2 = 2 + 2 + 2. Lalu pada pelajaran selanjutnya ia akan memahami vahwa.
    3 x (-2) = -2 + -2 + -2.
    3 x 1/2 = 1/2 + 1/2 + 1/2.
    Kekurangannya mungkin membutuhkan waktu lebih lama namun itu jauh lebih baik karena akan membantu siswa untuk paham dan bukan karena hafal.
    terima kasih sebelumnya

    Komentar oleh fadjarp3g | Oktober 16, 2008 | Balas

  22. Salam kenal juga dan terima kasih atas kunjungan dan dukungannya. Beberapa kelebihannya di antaranya adalah siswa yang membangun sendiri pengetahuan sesuai tuntutan konstruktivisme. Contohnya, 3×2 dikaitkan dengan notasi 3×2 tablet yang berarti pada pagi hari makan 2 tab, begitu juga pada siang dan malam hari. Dengan cara seperti ini, diharapkan para siswa akan dapat menyimpulkan dan membangun sendiri pengetahuan bahwa:
    3 x 2 = 2 + 2 + 2. Lalu pada pelajaran selanjutnya ia akan memahami vahwa.
    3 x (-2) = -2 + -2 + -2.
    3 x 1/2 = 1/2 + 1/2 + 1/2.
    Kekurangannya mungkin membutuhkan waktu lebih lama namun itu jauh lebih baik karena akan membantu siswa untuk paham dan bukan karena hafal.

    Komentar oleh fadjarp3g | Oktober 16, 2008 | Balas

  23. Ass.
    Pak! saya lagi nyusun skripsi dg judul “pengaruh Strategi pembelajaran konstruktivisme terhadap penalaran matematika siswa sma”
    Saya menemui kesulitan bagaimana implementasi di sma? pokok bahasan/materi apa yang cocok dengan judul saya? bisa tidak memberi contoh instrumen penelitiannya yg berkaitan dg penalaran mtk sma?
    Atas balasannya saya ucapkan Syukron Jaakallah khairan katsiran!
    Was.

    Komentar oleh Denden | November 7, 2008 | Balas

  24. Ass..

    Saya seorang mahasiswi Matematika, Fakultas Tarbiyah dan keguruan, UIN SGD, Bandung, semester 1..

    pada mata kuliah pembelajaran matematika MI(SD), saya kesulitan dalam mengenalkan atau mengajarkan tentang penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian Pecahan kepada siswa..

    mohon bantuannya pak.. bagaimana cara mengenalkan pelajaran tersebut kepada siswa..

    wss..

    Komentar oleh Cahyati | November 8, 2008 | Balas

  25. ass…
    slmt pg & salam kenal, saya ingin menanyakan tentang strategi yang efektip untuk mengajarkan matematika untuk anak usia sekolah dasar kelas 2 karena saya sangat kesulitan. sekedar informasi saya tinggal di daerah yang notebene jauh sari hiruk pikuk kota.
    terima kasih sebelumnya
    wassalam

    Komentar oleh yogie | November 9, 2008 | Balas

  26. 1. Untuk ketiga orang penanya di atas, WAss dan mohon maaf saya baru sempat membalas. Saya sangat sibuk. Ada kegiatan di Jakarta, besoknya langsung ke Malinau (Kaltim), istirahat dua hari lalu ke Gorontalo, lalu istirahat satu hari untuk menjadi juri IMSO (International Mathematics and Science Olympiade, di Mataram, NTB.

    2. Untuk Denden, selamat menyusun skripsi ttg “pengaruh Strategi pembelajaran konstruktivisme terhadap penalaran matematika siswa sma.” Menurut saya semuanya bisa cocok. Pada, pembelajaran konstruktivisme; pada intinya adalah siswa sendiri yang harus difasilitasi untuk mendapatkan konsep ataupun rumusnya. Lihat contoh-contoh di atas. Contohnya untuk SMA, adalah pada pembelajaran ttg statistika yang menggunakan power point seperti yang ada pada blog ini. Tentang penalaran mtk di sma? yang perlu diketahui dulu adalah apa sih penalaran itu? Di blog ini ada tuisan ttg penalaran. Lalu buat instrumennya. OK? Terima kasih atas
    kunjungannya ke weblog saya. Saya juga mengucapkan semoga cepat berhasil. Jika ada masalah, kontak lagi ya. Wass.

    3. Untuk Cahyati, Wss.. Pengenalan ttg Pecahan dapat dimulai dengan membagi apel, jeruk, atau apa saja menjadi empat bagian yang sama. Nah setiap bagian itulah yang disebut dengan 1/4, 2 bagian adalah 2/4. Kalau sehelai kertas dibagi menjadi 10 bagian yang sama; maka setiap bagian itulah yang disebut dengan 1/10, 2 bagian adalah 2/10. Begitu seterusnya. Pembelajaran harus dimulai dengan sesuatu yang nyata dan real yang bisa ditangkap dan dipikirkan siswa.
    Selanjutnya; pada penjumlahan 1/4 + 2/4 dapat diajarkan dengan masalah kontekstual seperti: “Amir memiliki 1/4 apel. Diberi ibunya 2/4 apel. Berapa apel yang dimiliki Amir sekarang?” Begitu juga untuk pengurangan.
    Pada perkalian pecahan; siswa harus menguasai bahwa 3×2 (setelah dikaitkan dengan notasi 3×2 tablet) yang berarti 2+2+2; sehingga 3 X 1/2 berarti 1/2+1/2+1/2. Jadi, buatlah pembelajaran pecahan menjadi mudah dengan mengaaitkan dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa. Pelajaran juga harus dimulai dari sesuatu yang mudah dan sudah diketahui siswa. OK. Selamat mencoba. Wss..

    4. Untuk Yogie; Wass; salam kenal juga. Pada dasarnya, pembelajaran untuk anak usia sekolah dasar kelas 2 harus dikaitkan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Pelajaran juga harus dimulai dari sesuatu yang mudah dan sudah diketahui siswa. Usahakan untuk anak agar paham dan bukan karena hafal. Kalau faham, maka pengetahuan yang dimilikinya tersebut akan tahan lama, namun jika karena hafal saja akan cepat hilang. Untuk yogie yang tinggal di daerah yang notebene jauh sari hiruk pikuk kota, maka diusahakan contohnya harus sesuai dengan keadaan yang ada di lingkungannya.
    Contohnya, untuk mengajarkan perkalian (bilangan 2), guru dapat mengajukan masalah kontekstual seperti ini:
    “3 ekor ayam, kakinya ada berapa?”
    Dengan masalah seperti ini, jawaban anak diharapkan akan bermacam-macam. Salah satunya adalah: Banyaknya kaki ayam adalah 2 + 2 + 2. Jika tidak ada yang menyatakan dengan 3×2, maka bapak guru dapat mengenalkan tentang notasi/lambang atau konsep perkaliannya yaitu 3×2. Jika diajukan pertanyaan kebalikannya, yaitu apa arti 5×2 diharapkan siswa akan menjawab: “5×2 berarti banyaknya kaki pada 5 ekor ayam, banyaknya tangan pada 5 orang, … dsb. Setelah itu baru siswa dilatih mengingatnya dengan menuliskan di bukunya perkalian 1×2, 2×2, 3×2, 4×2, 5×2, … . Kaki ayam yang ditanyakan adalah ayam yang biasa dan normal, dengan asumsi setiap ayam, memiliki 2 kaki. Jadi, dengan pertanyaan tadi siswa akan belajar menjawab pertanyaan yang konkret atau real di pikiran siswa. Dari jawaban pertanyaan itu dimunculkan konsep perkaliannya. Jadi, bukan guru yang langsung mengumumkan, namun siswa yang mencapatkan sendiri apa arti 4 x 2. Ok? Lebih jelas kan sekarang? Pada intinya, tugas guru lobih pada fasilitasi.

    Komentar oleh fadjarp3g | November 15, 2008 | Balas

  27. konstruktivisme dan impelementasinya dalam pembelajaran sangat membantu guru mengelola PBM

    Komentar oleh MUKHSIN | November 19, 2008 | Balas

  28. Pak MUKHSIN, saya sebagai WI di P4TK sangat senang membaca pendapat Bapak bahwa konstruktivisme dan impelementasinya dalam pembelajaran sangat membantu guru mengelola PBM. Namun perlu tambahan sedikit saja. Yaitu, hal itu dilaksanakan untuk membantu/memfasilitasi siswa mempelajari matenmatika. Sekali lagi terima kasih pak.

    Komentar oleh fadjarp3g | November 19, 2008 | Balas

  29. salam sejahtera.

    saya kelas 5 SD. saya itu paling susah kalau belajar MATEMATIKA,karena soal matematika sering menjebak. padahal saya sudah belajar setiap hari dan saya selalu niat untuk belajar matematika lagi pula saya juga cukup teliti. tapi mengapa saya selalu mendapat nilai jelek. saya juga turun peringkat, yg awalnya masuk 10 besar jadi tidak masuk 10 besar malah keluar dari 10 besar. saya juga harus menyembunyikan nilai jelek matematika pada orang tua saya. nilai rapot saya jadi hancur karena MATEMATIKA.

    TOLONG DIJAWAB SECEPATNYA. SAYA TUNGGU!

    Komentar oleh ADINDAN KHAIRUNISA | Januari 20, 2009 | Balas

  30. Untuk ananda A KhairunNisa. terima kasih dan salam sejahtera juga. Saya ikut prihatin jika ananda tidak masuk 10 besar dan terpental dari 10 besar. Menurut saya, yang penting bukan keluar dari 10 besarnya, namun yang lebih penting dijawab adalah mengapa ananda A KhairunNisa mendapat nilai matematika jelek. Sebetulnya, soal matematika tidak menjebak. Namun sengaja disusun seperti itu agar ananda lebih mampu berpikir, bernalar dan memecahkan masalah. Nilai jelek matematika dapat disebabkan berbagai hal, di antaranya:
    1. tidak ingat rumusnya.
    2. tidak paham pengertiannya, contohnya yang ditanyakan luas belah ketupat, malah yang dibayangkan dan dijawab adalah luas jajar-genjang.
    3. terburu-buru. Kalau dilihat dari cara menuliskan komentar di atas, saya cenderung menyatakan bahwa ananada adalah siswa yang cerdas dan berani, namun nampaknya masih sering terburu-buru. Kalau ini yang terjadi, ya harus lebih teliti lagi. Kalau sudah teliti mengapa nilainya harus jelek? Ya mudah2an ananda termasuk siswa yang tidak terburu-buru dan termasuk siswa yang benar-benar teliti.

    Namun saya tidak dapat menentukan penyebab kesalahannya secara pasti, kecuali saya dapat melihat pekerjaan (ulangan) ananda. karena itu, saran saya yang kedua adalah jangan menyembunyikan nilai jelek matematika pada orang tua, justeru orang tua harus tahu kesulitannya di bagian mana untuk dicarikan jalan keluarnya. Kalau perlu, orang tua akan meminta bantuan pakar pendidikan matematika untuk menentukan penyebab jeleknya niali matematika ananda. Baru setelah itu langkah2 perbaikan akan ditentukan. Yang terakhir, jangan lupa untuk terus berlatih mengerjakan soal2 matematika. OK? Selamat berjuang dan belajar. Mudah-mudahn berhasil memepelajari matematika. Amin.

    Komentar oleh fadjarp3g | Januari 21, 2009 | Balas

  31. Ass. Saya mahasiswa PJJ ingi mencari makala dengan judul hal-hal yang perlu diperbaiki dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa, siapa tau bisa dibantu. Trims sebelumnya.

    Komentar oleh Mohamad Usman | Januari 22, 2009 | Balas

  32. wAss. pak Mohamad Usman ini guru yang menjadi mahasiswa PJJ ya. Kalau memang benar begitu cobalah ketika sedang melakukan proses pembelajaran di kelas untuk:
    1. melihat pekerjaan siswa.
    2. menanyakan kenapa hasilnya begitu? Kalau jawaban siswa tadi benar, maka alasan mengapa ia melakukan begitu akan memperkaya pemahaman Bapak tentang alasan yang menyebabkan hal itu menjadi benar. Begitu juga jika jawaban siswa tadi salah, maka alasan mengapa ia melakukan hal itu akan menjadi dasar program perbaikannya.
    Dengan cara seperti itu, Bapak akan menjadi guru yang berpengalaman yang tahu penyebab kesalahan siswa dan tahu juga hal-hal yang menjadi alasan bagi si siswa untuk menjawab benar. Jadi, sebetulnya Bapak tidak perlu mencari makalah dengan judul hal-hal yang perlu diperbaiki dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa. Teori yang mendukung dan menjadi dasar, nah itu yang harus dicari. Contohnya, siswa sulit memfaktorkan, persamaan kuadrat, seperti x^2 – 2x – 3. Lalu apa penyebabnya? Nah teori yang saya gunakan adalah tentang hirarki belajar dari Gagne. Ternyata siswa lemah menjumlah dan mengalikan dua bilangan bulat. Lalu bagaimana ia akan dapat memfaktorkan jika ia lemah menjumlah dan mengalikan dua bilangan bulat? Perebaikannya yang dengan memperbaiki pengetahuan prasyarat tentang menjumlah dan mengalikan dua bilangan bulat tersebut.OK? pada tulisan saya di blog ini ada beberapa tulisan yang berkait dengan permasalahan pembelajaran dan usulan langkah-langkah perbaikannya. Cuma saya lupa judulnya.

    Komentar oleh fadjarp3g | Januari 23, 2009 | Balas

  33. asm..bpk,saya mhs jur mtk upi.insyaAllah saya akan menyusun seminar sekarang…saya ingin berkonsentrasi tentang problem solving dan kemampuan intuitif.mohon kiranya bpk bisa membantu untuk mengirimkan artikel2 yang bpk punya ke email saya erankyas@yahoo.com.
    sekalian saya mau tanya, bedanya pendekatan pemecahan masalah,metode pemecahan masalah,dan model creative problem solving apa?mohon di jawab via email.sebelumnya terima kasih

    Komentar oleh erankyas | Februari 25, 2009 | Balas

  34. Assm,..Pak,besar harap saya pd bpk untuk membantu skripsi saya.Mohon dikirimi artikel2 menggunakan prob.solving pd penjuml.&pengurangan pecahan di sd.E-mail saya :r41h4nfz@yahoo.com.Makasih ya Pak.

    Komentar oleh raihanfz | Maret 4, 2009 | Balas

  35. Ass pak Fadjar, terima kasih saya telah membaca makalah bapak ini, mhon ijin mengcopy ya pak, unt melengkapi tugas kuliah. Thank’s banyak.

    Komentar oleh Roma | Maret 18, 2009 | Balas

  36. ass. pak menemukan masalah ketika mengajar ,materi operasi bilangan campuran di kelas 2 SD. Mereka selalu bertanya “bu, ini diapakan? ditambah atau dikurang? dikali atau dibagi?
    nah rencananya permasalahan ini akan saya jadikan skripsi saya. kira2 metode apa yang cocoko untuk mengatasi masalah diatas? trimakasih pak fajar

    Komentar oleh RIETA | Maret 29, 2009 | Balas

  37. wass. Untuk mas/mbak Roma dan yang lain, tidak apa-ap jika disunting.

    Untuk penanya berikutnya (mbak Rieta), Ketika mengajar (1978-2000), saya sering menemukan masalah seperti yang ibu sampaikan ketika mengajar. Mereka selalu bertanya “bu/pak, ini diapakan? ditambah atau dikurang? dikali atau dibagi?
    Bagus jika rencananya permasalahan tersebut akan dijadikan skripsi. Menurut saya, pemecahan atau penyelesaian masalah masalah diatas sangat tergantung pada penyebabnya. Contoh penyebabnya adalah:
    1. Siswa bingung kalau melihat bilangan besar. Cobalah untuk memmulai dengan soal yang mudah dan sederhana.
    2. Ketika anak saya yang SD tidak bisa menyelesaikan soal ceritera dengan bilangan besar, maka saya minta ia untuk mengganti bilangan besar tadi dengan bilangan kecil, ternyata operasi yang ada dapat ia temukan.
    3. 33 1/3 % kelihannya sulit bukan? Ini pengelaman saya waktu kecil di SD. Namun mernjadi mudah ketika saya ubah sementara menjadi 25% dan 12 1/2 % yang sudah saya ketahui.
    4. Siswa belum paham arti 2 1/2 = 5/2 misalnya. dIA HANYA TAHU ATAU HAFAL RUMUSNYA namun belum paham. Contoh lainnya, dia belum paham bahwa 1/2 x 4 berarti “setengah/separuh dari 4.” Kalau hanya hafal, maka ketika dia tidak ingat, maka akan payah bagi dia. Kalau hal ini yang terjadi, maka pembelajarannya yang harus diperbaiki.
    5. Jadi secara umum, pembelajaran harus dimulai dari yang mudah dan sederhana, serta mewnggunakan masalah kontekstual/realistik pada awalnya, Jika akan mengajar 1/2 x 4, maka alternatif ‘masalah kontekstual’ di awal pembelajaran adalah “Amir memiliki 4 kelereng. Separuhnya diberikan kepada Amat. Berapa kelereng yang diberikan Amir kepada Amat?” Dari soal ceritera ini siswa dibimbing untuk membangun sendiri pengetahuan bahwa matematika hal itu adalah 1/2 x 4 = 2.

    Komentar oleh fadjarp3g | Maret 30, 2009 | Balas

  38. teori konstruktivisme apakah cocok bila di terapkan di indonesia ?

    ehh iseng iseng mau cari uang tambahan klik aja link saya

    Komentar oleh haery | April 20, 2009 | Balas

  39. Assalm….

    Maaf bapak,adish sekarang lagi mau nyusun metode penelitian…adish lagi bingung kira-kira judul yang tepat ap y?insya Allah adish ntar mau ambil pndekatan knstruktivisme da realistik…
    adish lagi bingung nyari judul….

    jazkllah

    Komentar oleh Gadish Aulliamanda Shabirah | Mei 27, 2009 | Balas

  40. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Setuju pak, bahwa anak harus dapat menemukan dan membangun sendiri pemahamannya.

    Sebagai contoh, buat kita orang dewasa penjumlahan dengan angka 9 bukan sesuatu yang sulit tentunya. Apakah demikian dengan anak-anak ? Ternyata tidak.

    Anak-anak akan menerima rumus bahwa 9 + 2 sama dengan 10 ditambah dengan 2-1.

    9 + 3 = 10 (3-1)
    9 + 6 = 10 (6-1)

    dst.

    Lain halnya jika dengan metode konstruktivisme, anak “didorong” / “difasilitasi” untuk menemukan pola pada penjumlahan berikut :

    9 + 1 =
    9 + 2 =
    9 + 3 =
    9 + 4 =
    9 + 5 =
    9 + 6 =
    9 + 7 =
    9 + 8 =
    9 + 9 =

    Pengalaman saya ketika menggunakan cara ini untuk siswa SD kelas I, sampai kepada soal 9 + 5, dengan melihat pola bilangan hasil penjumlahan sebelumnya, ternyata soal-soal berikutnya siswa tersebut tidak lagi menghitung manual. Siswa tersebut tinggal mengurutkan saja bilangan hasil penjumlahan. Setelah menjawab 14 kemudian 15, 16, 17 dan 18 tanpa menghitung.

    Selanjutnya, untuk melihat apakah siswa tersebut benar-benar mengenali pola penjumlahan dengan bilangan 9 dan apakah siswa tersebut telah menemukan dan membangun pengertiannya sendir, kemudian soal-soal di atas kami acak urutannya.

    Apa yang kami alami dalam waktu dekat ini, pengalaman mengajar pada siswa-siswa SMP Kelas VII di satu sekolah non Formal, jangankan untuk membangun pengertiannya sendiri. Untuk melihat pola pada penjumlahan dangan bilangan negatif saja mereka SANGAT KESULITAN, padahal kami sudah menggunakan media konkret dalam pembelajarannya termasuk dengan angka-angka yang mudah.

    Pertanyaannya, bagaimana menumbuhkan semangat kepada siswa agar mereka mau “berusaha” untuk pertama menemukan satu pola pada operasi bilangan hingga kemudian membangun pengertiannya sendiri dari pola-pola yang sudah mereka temukan. Apakah keengganan mereka belajar, keengganan mereka membangun pengertiannya sendiri ada kaitannya dengan sisi ekonomi keluarga siswa, ataukah juga karena GRATIS menjadikan semangat untuk menimba ilmu pun asal-asalan

    Mohon masukannya pak, terima kasih sebelumnya.

    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

    Komentar oleh Yudhi | Juli 28, 2009 | Balas

  41. Assalamualaikum Wr. Wb.
    aku kul lagi sambil mengajar karena belum S1, sekarang lagi menyusun skripsi, bapak bisa memberikan sekilas tentang Buku Rusefendi?soalnya aku tanya-tanya pada tidak punya, bapak bisa memberikan gambaran tentan rusefendi kalo bisa di emailkan…terimakasih
    wassalam

    Komentar oleh J. Rahmat Eff. | Agustus 18, 2009 | Balas

  42. trima kasih pak, visualisasi penjumlahan & pengurangan bil. bulat dgn power point sangat membantu saya utk ngajar di kelas. Sempat bingung buat bahan medianya supaya praktis dan siap pakai

    Komentar oleh hamida sulaiman | Agustus 21, 2009 | Balas

  43. pak mohon bantuannya….
    saya mau mhs Teknik Informatika dan saat ini saya baru skripsi,kepengen buat metode pembeljaran matematika buat anak SD tapi belum dapet judul yang tepat.
    mohon masukannya untuk judul yang nantinya akan saya buat.
    terima kasih

    Komentar oleh lia | Oktober 6, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar