fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Pemanfaatan Faktor Sikap dalam Pembelajaran Matematika

Naskah ini dimuat di majalah ‘Limas’ yang merupakan majalah PPPPTK Matematika, Edisi No 21 (November 2008). JIka Anda berminat membacanya, klik pada kata berikut DownLoad 08-SikapLimas. LoadAusubel . Jika Anda ingin memberi komentar dan saran, sudilah mengklik pada judul di atas, tunggu sebentar, lalu ketik pada tempat yang disediakan di bawahnya’

About these ads

Desember 19, 2008 - Posted by | Artikel | ,

2 Komentar »

  1. Ini adalah artikel yang penting dan baik dibaca khususnya oleh guru matematika. Dari artikel ini saya mmeniyimpulkan dua faktor penting yang harus ditekankan agar membangun sikap positif dalam pembelajaran matematika:
    1. Merasakan/menyadari kegunaan matematika. Aplikasi matematika yang benar membawa kebahagiaan hidup.
    2. Pengalaman mendapatkan nilai tes, ujian matematika yang bagus.
    Alhamdulillah, saya sering memulai pembelajaran matematika dari berbagai sudut pengalaman kehidupan keseharian. Misal suatu ketika, nyaris seolah-olah tidak membawa matematikanya terlebih dahulu, saya bertanya kepada siswa, Guru: “Menurutmu, pemain sepekbola terbaik saat ini siapa?” (Sementara itu saya tengah membgrowsing berita sepakbola di “InilahCom,” di situ nampak Tores, Ronaldo, Becham, Messi dsb.)
    Responya, bermacam-macam
    Siswa: CR7 Pa, dia pemain bola terbaik 2008 versi FIFA.
    Siswa lain: Sebenarnya yang lebih bagus itu Messi, Lionel Messi Pa?…
    dst.
    Yang jelas para siswa, terutama pria, nampak antusias sekali. Diawali suasana seanang begini saya lebih mudah membawa siswa ke topik pembelajaran yang diinginkan, tinggal dipilih konteks yang sesuai, misalnya mau ke peluang, grafik fungsi parabola, statistika atau bahkan untuk peningkatan afektif, mental seperti ketekunan dalam belajar, berlatih untuk meraih keberhasilan.
    Berikutnya, untuk memberikan pengalaman dapat nilai bagus kepada siswa. Saya mau saja menyederhanakan soal matematika, cukup satu dua soal misalnya, setiap siswa diminta menjawabnya. Kemudian dilakukkan pembahasan, kemudian diberikan kriteria penilaian jawaban terhadap soal-soal itu. Para siswa saya suruh untuk menilai sendiri jawabannya berdasarkan kriteria yang diberikan. Saya kumpulkan nilai itu dengan membawa selembar data nama siswa ke meja setiap siswa sambil mencatat nilai yang diperoleh siswa. Karena soalnya memang sederhana dan dapat dijamin terjawab baik oleh siswa, maka alhamdulillah rata-rata siswa nilainya baik, dan ini di umumkan ke tengah-tengah siswa, dengan catatan yang terbaik adalah si A, berikutnya B dst. Jadi kami semacam merayakannya. Dengan cara ini saya merasakan para siswa cukup kalau tidak bersemangat baik dalam belajar matematika.
    Sekali lagi tulisan Pa Fadjar ini penting, terima kasih Pa Fadjar.

    Komentar oleh Syaiful Yazan | Maret 18, 2009 | Balas

  2. Memang …, setelah sikap positif terhadap matematika terbentuk, dan tentunya setelah siswa melewati tahap pengerjaan soal dari yang mudah, kemudian sedang dan terakhir dengan soal-soal yang sulit, siswa tersebut akan menjadikan soal yang sulit tersebut sebagai satu tantangan. Siswa tertantang untuk tidak hanya menggunakan otak kirinya saja, namun juga dengan otak kanannya, siswa tertantang untuk kreatif menjawab soal-soal tersebut.

    Pertanyaan saya kemudian, bagaimana guru menumbuhkan sikap positif tersebut jika MAYORITAS siswa masih pada tahap awal ; belum mampu menghargai kegunaan matematika (acuh tak acuh dengan materi yang disampaikan guru) ?

    Apakah perlu pendekatan secara personal kepada tiap siswa yang BERMASALAH tersebut ? Jika demikian, bagaimana dengan target kurikulum yang harus dipenuhi ?

    Mohon masukannya ya pak. Saya sendiri memiliki keyakinan bahwa, tidak ada kata “TIDAK BISA” dalam matematika. Sebagaimana yang telah dicontohkan, bahwa ketika seorang anak belajar berjalan, menurut saya tidak pernah ada orang tua yang mengajarkan cara berjalan adalah misalnya “Ayo kaki kirinya maju nak, trus, sekarang kaki kanannya ya.” Orang tua hanya bertugas sebagai fasilitator saja dengan mengulurkan tangannya sebagai pegangan si bayi.

    Bagaimana dengan si bayi? Bagaimana si bayi tersebut belajar melangkahkan kakinya ? Sudah pasti dengan potensi kemandirian yang sudah diberikan ALLAH lah, kemudian si bayi dapat berjalan.

    Demikian halnya dengan siswa-siswa yang masih “BERMASALAH” dengan matematika. Tentunya, jika mereka mampu menyadari berbagai karunia yang telah diberikan ALLAH, mereka pun akan mampu menyelesaikan segala masalah dihadapi.

    Salam.

    Komentar oleh Yudhi | Juli 29, 2009 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: