Untuk Apa Belajar Matematika?
Naskah ini dimuat di majalah ‘Widya’ yang merupakan majalah pendidikan, seni, oleah raga, dan pariwisata Vol. 4/ No 41/Desember 2008. JIka Anda berminat membacanya, klik pada kata berikut DownLoad-Artikel. Jika Anda ingin memberi komentar dan saran, sudilah mengklik pada judul di atas, tunggu sebentar, lalu ketik pada tempat yang disediakan di bawahnya’
& Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (5)
- Juli 2009 (1)
- Desember 2008 (4)
- Juli 2008 (1)
- Juni 2008 (6)
- Maret 2008 (2)
- November 2007 (1)
- Oktober 2007 (4)
- September 2007 (11)
- Agustus 2007 (9)
- Mei 2007 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS

Orang yang tahu cara menikamati matematika akan merasakan nyaman, senang berurusan dengan matematika. Tentunya bukan sekedar kenikmatan teori otak-atik rumus/konsep matematika dan berhasil dalam tes-tes teoritis matematika. Lebih dari itu, adalah bagaimana keterpakaian matematika itu sendiri bagi kehiduppan (pragmatisnya). Salah satu masalah praktis itu adalah mengenai perhitungan waktu, hari, bulan, tahun dan sebangsanya baik dalam tahun masehi atau terlebih tahun hijriyah. Setiap awal Ramadahan, penetapan satu Syawal, penuh perdebatan. Saya pribadi ingin tahu bagaiamana sih hitung-hitungannya/hisafnya. Apa tidak lebih baik perhitungan demikian diberikan di matematika sekolah atau universitas khususnya di jurusan matematika? Bagaimana P4TK Matematika menanggapi hal ini? Terima kasih Pa Fadjar.
Salam perkenalan
dari yg lebih muda Pak.
Tujuan no 5. Menghargai matematika dalam kehidupan.
>>Masalahnya:
Pak, bangsa kita jarang menulis/membaca. Bahkan presentasi di depan masyarakat awam menggunakan simbol2/tabel pun dianggap tabu(padahal kan terkandung filosophi logika matematika pemetaan dan himpunan).
Terus bagaimana??
>>Usul:
Kalo sedari kecil siswa diminta menjelaskan masalah matematika sederhana ke temannya gimana pak? Supaya
matematika dianggap sebagai bahasa. Kalau begitu kan
seolah siswa harus belajar “bahasa” itu sendiri biar
dapat menerangkan ke temannya.
Untuk Mas Syaiful Yasan, memang benar hal itu. Namun sudah banyak guru Fisika yang menanganinya, contohnya pak Ar Fisika (Webnya ada di Link/Taut webbbloig ini. Saya berpikir agar kita fokus di pemeblajaran MaT=-nya; sehingga ketika siswa sudah besar, ia dapat memilih dan memahami yang terbaik untuknya. OK? Tetapi usul Bapak akan saya sampaikan ke bagian Paly Ground atau Rancang Banngun untuik dibuatkan modelnya. OK? TK
UIntuk At, Oh ya. Salam kenal juga. Terima kasih. Tujuan no 5 memang menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Namun masalah yang Anda sampaikan berkait dengan komunikasi, yaitu tentang menulis/membaca, dan presentasi di depan masyarakat awam menggunakan simbol2/tabel pun dianggap tabu(padahal kan terkandung filosophi logika matematika pemetaan dan himpunan). Ya tergantung audiencenya. Kalau mereka belum paham yang jangan terlalu dipaksakan.
Usul Bapak sangatlah bagus jika sedari kecil siswa diminta menjelaskan masalah matematika sederhana ke temannya. Ya benar, matematika dianggap sebagai bahasa sehingga dapat memperjelas komunikasi. Di AS, siswa SD diminta menjelaskan kepada temannya 0 merupakan bilangan ganjil atau genap menggunakan barisan 1, 2, 3, 4, …
Saya sangat mendukung usul Anda.
Ass. pak fadjar.
mohon maaf saya tdk menanggapi posting bapak. karena saya masih diklat di p4tk sekarang (smk dasar) dan belum sempat download serta membaca artikelnya.
wah weblog bapak sangat membantu saya dalam memecahkan persoalan matematika tanpa tatap muka di jogja. boleh kan pak….
terima kasih banyak pak, bapak nerangkan materinya enak…. waktu terasa kurang setiap bapak masuk.
jika bapak berkenan, mampir ke blog saya. sudah saya link weblognya bapak.
sekali lagi terima kasih banyak, banyak ilmu yang didapat dari bapak.
wss.