fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Bagaimana Mengefektifkan Ujian Nasional

Naskah ini dimuat di majalah ‘FORWAS’ Nomor 26/XII/2007 yang merupakan majalah Forum Pengawasan  Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional. JIka Anda berminat membacanya, klik pada kata berikut DownLoadArtikelForwas. Jika Anda ingin memberi komentar dan saran, sudilah mengklik pada judul di atas, tunggu sebentar, lalu ketik pada tempat yang disediakan di bawahnya

Maret 31, 2008 - Posted by | Artikel

6 Komentar »

  1. Mhn izin Pak Fajar, Sy sidah baca artikelnya, bagus!!, boleh Sy muat di blog sy? tk

    Komentar oleh dedidwitagama | Juni 9, 2008 | Balas

  2. Pak Dedi, trm kasih juga untuk memuat artikel tersebut di blog Bapak.

    Komentar oleh fadjarp3g | Juni 11, 2008 | Balas

  3. Setuju pak…
    Tapi…, ada hal yang mesti kita cermati bersama dan mari kita simak hasil dari UN tahun 2008 ini.
    Disalah satu sekolah di salah satu propinsi, ada yang nilainya sangat pantastik. Sangat membanggakan atau mungkin menyedihkan…Saya pikir bapak juga setuju bila guru mesti tahu karakteristik dan sampai seberapa besar kemampuan anak didiknya, tahun 2008 ini (mungkin juga di tahun tahun sebelumnya terjadi) ada siswa yang mendapatkan nilai matematikanya 10. Sungguh hebat bukan? Sudah tentu semua guru berharap siswanya mendapat nilai yang terbaik, tetapi ini lain… Siswa yang mendapat nilai 10 itu memang kemampuannya dibawah kemampuan rata-rata kelas dalam sehari hari bahkan paling rendah. Itu sedang beruntung saja kali…??? jawabnya mungkin juga ya bisa juga tidak. Tetapi mengapa yang mendapat nilai 10 itu lebih dari 3 orang? sedangkan siswa yang kemampuannya bagus nilainya tidak lebih baik dari yang kemampuannya di bawah. Yang mencengangkan lagi rata-rata nilai UN lebih dari 8, hebat bukan??? sedangkan guru-guru mereka tahu kemampuan matematika anak didiknya berkisar 3 – 6 dan ini sudah berkali-kali diadakan uji coba. Tapi ko bisa dengan soal UN yang “bagus” mereka mendapat rata-rata nilai lebih dari 8?
    Gurunya membantu menjawab kali…?? Dijamin tidak ada hal seperti itu, jadi siapa yang punya peran sehingga siswa tersebut bernilai 8, 9 atau 10? Jawabnya hanya Alloh SWT yang tahu…
    Rata-rata 8 sekarang = rata-rata 3 sewaktu kita di SMA😀 …

    Komentar oleh rbaryans | Juni 16, 2008 | Balas

  4. Pak rbaryans, terima kasih komentarnya. Inilah sesungguhnya masalah terbesar pendidikan kita.

    Komentar oleh fadjarp3g | Juni 17, 2008 | Balas

  5. Baca artikel Bapak saya jadi trenyuh, begitulah pendidikan di negeri ini. Padahal di sekolah saya untuk mempersiapkan UAN dilakukan pengayaan dari awal-awal tahun ajaran, saya termasuk team pengayaan. Tapi Pak terkadang apa yang kami lakukan menjadi percuma kalo ternyata pada ujung-ujungnya ada budaya katrol nilai, yang pada akhirnya semua siswa lulus???? Nilainya fantastik lagi!!!
    Mudah-mudahan artikel bapak telah disampaikan pada yang berwenang.
    Trima kasih.

    Komentar oleh Deddy Hudaya | September 9, 2008 | Balas

  6. Untuk pak Deddy Hudaya, ya begitulah keadaan kita. Naskah tersebut sudah dimuat di majalah FORWAS dari Inspektorat Jenderal Depdiknas.

    Komentar oleh fadjarp3g | September 9, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: