fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Ayah, Selamat Jalan

Ayah, kemarin, tanggal 28 Oktober 2011 merupakan 40 hari Ayahanda meninggalkan kami semua pada usia 82 tahun. Adik Firdaus (Ir Misykatul Firdaus Safwan, Dep Perikanan dan Kelautan), melalui SMS mengingatkan kami tentang hal itu dan meminta kami untuk selalu berdoa mudah-mudahan Ayahanda selalu memperolah maghfirah dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Ayah dan Bunda tercinta: “Robbi firli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayani soghira.” Ya Alloh, ampunilah dosa hamba dan dosa Ayah dan Bunda tercinta hamba sebagaimana mereka mencintai dan menyayangi hamba ketika masih kecil. Allahumma, amin.

Pada 19 September 2011, kami, putera putri Ayahanda dan Ibunda, terutama adik Nizami (dr Nizami, Bogor) dan adik dr Iis (dr Zunaizah Hasanah Safwan, Bogor) berusaha keras disertai doa tulus yang lain untuk menyembuhkan Ayah, dan dibantu para dokter RS Mitra Keluarga, Waru Sidoarjo, namun Allah yang maha besar (Allahu Akbar) dan maha suci (Subhanallah) berkehendak lain yang harus kita terima. Ketentuan-Nya itu harus dan telah kita terima dengan tabah dan tawakkal. Pada sekitar pukul 03.00, hari Senin, 19 September 2011, tepat seperti di saat Rosulullah wafat, Ayahanda menghembuskan nafas dan meninggalkan kami semua. Adinda Mukminah berkomentar: “Saat wafat Ba Sahwan seperti Rosulullah. Memang Ba Sahwan dan Ba Putri orang baik.”

Ayah, kami juga akan selalu berdoa, mudah-mudahan Ayahanda dan Ibunda tercinta beserta semua keluarga besarnya akan selalu mengikuti tuntutan Allah dan Rosulullah. Allahumma, amin. Ayah, ketika Ayah berlibur di Sambisari, Sleman, DIY, ananda masih dan akan selalu ingat ketika Ayahanda berkata, : “Nabi Muhammad SAW tidak pernah lupa melaksanakan sholat sunnah dua rokaat sebelum Subuh,” dan hal itu juga selalu Ayah laksanakan. Ayah, ananda yang menjadi saksi bahwa Ayahanda dan Ibunda selalu melaksanakan sholat sunnah dua rokaat sebelum Subuh tersebut. Ibunda tercinta  juga berceritera bahwa ketika Ayahanda sudah mulai uzur, setiap hari Jumat, ayah sudah siap untuk ke Mesjid sejak sekitar pukul 10.00. Ananda membayangkan hal itu lagi ketika Ayahanda sudah meninggalkan kami. Itulah beberapa contoh keteguhan Ayahanda melaksanakan semua perintah-Nya dan mengikuti contoh Rosulullah. Ya Alloh, terimalah amal Ayahanda dan ampunilah semua dosanya. Allahumma, amin.

Ayah tercinta, banyak sekali sahabat dan karib keluarga Ayahanda yang menyolatkan Ayah, sampai enam kali rombongan. Sesuai pesan Ayahanda kepada ananda, yang menjadi imam sholat pertama sampai kelima adalah sahabat-sahabat Ayahanda. Sebanyak 33 karangan bunga menghiasi rumah di jalan Dirgahayu. Semua merasa kehilangan Ayahanda, semua menyatakan bahwa Ayahanda akan selalu berusaha untuk ikut taksiah ke tempat orang yang meninggal dunia. Ayahanda tidak membedakan orang. Orang miskin, kaya, perempuan, laki-laki, tua, atau muda akan ayahanda datangi dan sholati ketika mereka meninggal. Itu jugalah teladan untuk kami. Rosullullah juga begitu. Pak Musyaffak, mantan Guru Pendidikan Jasmani di SMA 1 Pamekasan juga menyatakan: “Saya bersilaturrahmi dengan Pak Sahwan satu kali, Pak Sahwan  bersilaturrahmi dengan saya delapan kali.” Itu jugalah kelebihan Ayahanda.

Menjelang Kepergian Ayahanda

Pada Senin, 13 September 2011, ananda bertugas ke Kupang karena diminta menjadi juri Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) untuk para siswa SMK se propinsi NTT. Namun pada Selasa, 14 September 2011 adik Dayat (Syamsul Hidayat Safwan, SE, BNI Pamekasan) menelepon ananda bahwa Ayahanda drop. Waktu itu ananda tidak terlalu kuatir. Kepada panitia di Kupang, ananda menyatakan berita itu, akan tetapi ananda belum menyatakan ingin pulang ke Madura. Namun beberapa jam kemudian, datang lagi kabar bahwa Ayahanda mengalami koma. Ananda lalu menghubungi panitia untuk menceriterakan hal itu. Kepulangan ananda ke Yogyakarta yang seharusnya hari Sabtu, nanda minta untuk dimajukan. Waktu itu ananda menyatakan bahwa tugas nanda sudah nanda tunaikan. Soal dan kunci jawaban untuk kegiatan OSTN sudah selesai. Tinggal melaksanakan saja. Panitia memahami, sehingga pada Kamis, 14 September 2011, nanda bisa pulang ke Madura. Sebelum tiba dan bertemu Ayahanda, kondisi ayah membaik, sehingga adik Nizami dan Iis sepakat untuk membawa ayah ke Surabaya untuk menjalani scan. Saudara-saudara yang lain sudah tiba dan semuanya berkumpul di Rumah Sakit Asy Syifa, Pamekasan. Hasil scan lumayan baik.

Hari Jumat, 15 September 2011, kondisi ayahanda menurun lagi. Sekali-kali, ananda menyaksikan Ibunda menciumi tangan Ayahanda yang menunjukkan bakti dan kecintaan beliau kepada Ayahanda. Kami juga, secara bergantian, membantu Ayahanda untuk mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Adik Nizami berusaha keras untuk mengatasi hal itu. Usaha Adik Nizami tersebut berhasil. Kondisi Ayah menjadi lebih baik dan kami sepakat untuk membawa ayah ke Surabaya. Melihat hal itu, ananda lalu kembali ke Yogya. Namun Allah SWT berkehendak, Ayahanda meninggalkan kami semua, putera puterinya di sekeliling Ayahanda. Ananda tidak menyangka Ayahanda akan secepat itu pergi. Hari ini, Ayahanda telah dikuburkan di dekat Nenenda dan adinda M Sulaiman Safwan. Dua orang yang ayahanda cintai selain Ibunda dan kami, putera puterinya. Beberapa minggu sebelum wafat Ayahanda telah memilih tempat tersebut sebagai tempat beristirahat.

Lebaran Terakhir dengan Ayahanda

Ayah, foto ini adalah dua foto labaran idul fitri tahun 2o11 ini. Waktu itu, suara Ayahanda sudah mulai kurag jelas terdengar. Namun semangat Ayahanda masih sangat besar. Menjelang sholat Idul Fitri, Ayahanda yang paling awal dan paling siap ke tanah lapang. Sekali lagi ayahanda, inilah contoh dan teladan Ayahanda dalam melaksanakan dengan sungguh-sungguh perintah-Nya dan mengikui sunnah Rosulul-Nya.

00 ayah 2

Ayah, gambar di atas menunjukkan keteguhan Ayah dan kekonsistenan Ayah untuk selalu melaksanakan yang diperintah-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya. Foto di bawah ini menunjukkan keluarga besar Ayahanda yang sedang bergembira merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, namun kami tidak menyangka bahwa itu merupakan hari terakhir bersama Ayahanda tercinta. Selamat jalan Ayah, do’a tulus kami menyertai Ayahanda.

0 lebaran 2011

Oktober 28, 2011 - Posted by | Fotoku, Keluarga

4 Komentar »

  1. Ikut berduka cita Pak Fadjar, semoga almarhum diampuni segala dosa dan diterima disisi Allah, dan salam kenal Pak Fadjar. Ahhirnya setelah cukop lama saya meihat blok Pak Fadjar saya ketemu langsung, dan ikut pelatihan beliau selama satu minggu, dalam acara club guru JSM…

    Komentar oleh Anton | Oktober 31, 2011 | Balas

  2. innalillahi wainnailaihiroji’un….

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

    insyaAllah Dato’* Fadjar termasuk anak yang sholeh didalam keluarga almarhum. insyaAllah menjadikan pahala terus mengalir meskipun ayahanda telah meninggal.

    * (Dato’ panggilan akrab temen2 staff QITEP untuk Pak Fadjar saat santai di QITEP in Math… hehehe…)

    Komentar oleh ekonugroho17 | November 2, 2011 | Balas

  3. Tulisannya sangat menyentuh dan berkesan pakde fadjar.. Hanya saja koreksi dari bapak bahwa bukan tanggal 19 oktober tapi tanggal 19 september 2011. Demikian seterusnya, oktober yang dibawah seharusnya september.🙂

    Komentar oleh Emir | Januari 7, 2012 | Balas

  4. untuk Ananda Emir dan Adik Firdaus, terima kasih ya.

    Komentar oleh fadjarp3g | Januari 9, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: