fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Kuliah Umum di Universitas PGRI Yogyakarta (UPY)

Pada 20 April 2016, UPY mengadakan kegiatan KUliah Umum. UPY bekerja sama dengan SEAMEO (Southeast Asia Minister of Education Organization) QITEP (Quality Improvement of Teachers and Education Personal) in Mathematics.

20160420_083944

20160420_113357

Penulis dengan Ass Professor Alan L White menjadi pembicara pada kegiatan tersebut. yang pembicara kemukakan.

2016 FJR Kuliah Umum UPY FJR

Berikut adalah Power Point pendukungnya yang menjadi acuan pembicara.

2014 Paparan Menteri Anis – Kadisdik 141201 – Low v.0

Masami Isoda Mathematical Thinking QitepMath 24102015

Masami Isoda Problem Solving Approach 2015Oct24 QitepMath

Dengan beberapa papaan di atas, akan membuka hati para guru matematika akan beratnya tantangan yang akan dihadapi para pemimpin bangsa pada masa-masa yang akan datang. Semoga tantangan tersebut akan menghasilkan pendidikan matematika yang dapat memfasilitasi siswa Inddonesia menjadi WNI yang mandiri dan berkepribadian sebagaimana dipesankan MEndikbud Prof Anies Waswedan.

 

Iklan

April 22, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Sikap dan Nilai yang Harus Dicapai Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Bayangkan sejenak masa depan yang akan datang, ‘Imagine the Future.’ Pada waktu itu, Bangsa dan Negara Indonesia akan dipimpin oleh para pemimpin yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah. Pada masa itu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), ASEAN Economic Community, sudah diberlakukan. Artinya, para pekerja dari Vietnam dan Thailand misalnya akan dapat masuk dengan begitu mudah dan bekerja di Indonesia dengan begitu leluasa. ….

th (7)

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Anies Baswedan (Kemdikbud, 2014) sudah bertekad untuk menjadikan ‘Generasi Mandiri Berkepribadian’. Pertanyaan yang dapat diajukan berkait dengan tugas kita sebagai pendidik matematika, di antaranya adalah:

  1. Apa yang dimaksud dengan istilah mandiri?
  2. Bagaimana menjadikan generasi mandiri?

Berkait dengan pengertian istilah ‘mandiri’, Isoda & Katagiri (2012:31) menyatakan bahwa tujuan pendidikan di Jepang adalah: To develop qualifications and competencies in each individual school child, including the ability to find issues by oneself, to learn by oneself, to think by oneself, to make decisions independently and to act. So that each child or student can solve problems more skilfully, regardless of how society might change in the future.

th (9)

Selanjutnya, ahli teori belajar Bruner (Cooney dkk, 1975), berpendapat bahwa belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan (‘learning by discovery is learning to discover’). Jelaslah bahwa selama duduk di bangku sekolah para siswa hendaknya difasilitasi gurunya untuk belajar menemukan sesuatu. Sejalan dengan itu, penulis dapat menyatakan di sini bahwa pada proses pembelajaran di kelas yang berkait dengan eksplorasi adalah untuk memfasilitasi para siswa kita untuk belajar dan berlatih melakukan eksplorasi (‘learning by exploration is learning to explore’). Dengan analogi yang sama, pada proses pembelajaran di kelas-kelas matematika dan berkait dengan pemecahan masalah (problem-solving) adalah memfasilitasi para siswa kita untuk belajar dan berlatih melakukan memecahkan masalah (‘learning by problem-solving is learning to solve problem’). Karenanya, di Jepang (Isoda & Nakamura, 2011:10; Isoda & Katagiri, 2012; Isoda, 2015a; Isoda, 2015b) memperkenalkan proses pembelajarannya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach atau PSA).

Sikap dan nilai-nilai yang dapat dikembangkan selama proses pembelajaran matematika di kelas menurut Isoda (2015a) adalah: (1) keindahan (beautifulness), (2) rasa ingin tahu (curiosity), (3) kemasuk-akalan alasan (reasonableness), (4) penghargaan (appreciation). Berikut ini adalah naskah yang menjelaskan tentang sikap dan nilai yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran matematika:

0 16 1 Sikap dan Nilai

Naskah tersebut sudah dikirim ke Limas, majalah P4TK Matematika.

April 13, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Pembentukan DIPI (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia)

borobudur-java-indonesia

Pada jaman dahulu, bangsa Indonesia pernah menghasilkan candi  Boroudur yang megah. Karenanya, Indonesia disebut bangsa dan negara besar, tetapi ironisnya mengapa sekarang penelitinya belum ada satupun yang mendapat penghargaan Nobel? Mungkinkah ada yang salah pada sistem pendidikan kita? Salah satu hasil perenungannya, ada pakar yang lalu menyatakan bahwa pendidikan kita hanya menghasilkan SDM yang hanya berkapasitas menghafal saja dan penelitinya hanya mengikuti dan membeo hasil penelitian dari luar lainnya? Lalu bagaimana upaya Pendidikan kita berbenah agar SDM-nya, menjadi kampiun di dunia dalam memecahkan masalah dan berinovasi? Mengalahkan Jepang, Korea dan Taiwan. Itulah sejatinya tantangan ke dapan bangsa ini kalau kita betul-betul ingin bangsa dan negara kita tetap eksis. Marilah kita rebut kembali kejayaan, marwah dan kebesaran bangsa dan negara indonesia.

th (2)

th

th (3)

Mungkin karena mencermati masalah tadi, pada bulan Maret 2016, AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan website http://www.aipi.or.id/ melaunching DIPI (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia). Berikut ini adalah: “LAPORAN TENTANG PERESMIAN DANA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (DIPI) ATAU INDONESIAN SCIENCE FUND (ISF) dan DISKUSI TENTANG KEGIATAN YANG BERKAIT DENGAN KEDATANGAN PROFESSOR THOMAS LOWRIE” yang penulis laporkan ke lembaga SEAMEO QITEP in Mathematics.

2016 Lap FJR ttg DIPI dan Hasil Diskusi di Kedubes Australia

Yang berikut adalah PowerPoint yang berkait dengan launching DIPI (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia) tersebut:

Announcing ISF-Prof Satryo

DIPI- MRC Joint Call for Proposals_Saputro

Newton Fund_slides announcement

Prof C Praeger_Indonesian Science Fund March 2016 FINAL

Pertanyaan berikutnya adalah:

  1. Setelah DIPI didirikan, apakah kita yakin bahwa pendidikan  dan penelitian di Indonesia akan menjadi lebih baik?
  2. Akankah pendirian DIPI tersebut akan mampu dan dapat menghasilkan peneliti Indonesia yang mendapat penghargaan Nobel pertama, kedua, ketiga … dan seterusnya?
  3. Sejauhmana keyakinan itu? Bagaimana kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa sebagai bangsa besar kita mampu untuk itu?
  4. Bagaimana caranya?

th (1)

Majulah Indonesiaku, majulah bangsaku dan majulah pendidikan Indonesiaku.

April 12, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar