fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Sikap dan Nilai yang Harus Dicapai Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Bayangkan sejenak masa depan yang akan datang, ‘Imagine the Future.’ Pada waktu itu, Bangsa dan Negara Indonesia akan dipimpin oleh para pemimpin yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah. Pada masa itu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), ASEAN Economic Community, sudah diberlakukan. Artinya, para pekerja dari Vietnam dan Thailand misalnya akan dapat masuk dengan begitu mudah dan bekerja di Indonesia dengan begitu leluasa. ….

th (7)

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Anies Baswedan (Kemdikbud, 2014) sudah bertekad untuk menjadikan ‘Generasi Mandiri Berkepribadian’. Pertanyaan yang dapat diajukan berkait dengan tugas kita sebagai pendidik matematika, di antaranya adalah:

  1. Apa yang dimaksud dengan istilah mandiri?
  2. Bagaimana menjadikan generasi mandiri?

Berkait dengan pengertian istilah ‘mandiri’, Isoda & Katagiri (2012:31) menyatakan bahwa tujuan pendidikan di Jepang adalah: To develop qualifications and competencies in each individual school child, including the ability to find issues by oneself, to learn by oneself, to think by oneself, to make decisions independently and to act. So that each child or student can solve problems more skilfully, regardless of how society might change in the future.

th (9)

Selanjutnya, ahli teori belajar Bruner (Cooney dkk, 1975), berpendapat bahwa belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan (‘learning by discovery is learning to discover’). Jelaslah bahwa selama duduk di bangku sekolah para siswa hendaknya difasilitasi gurunya untuk belajar menemukan sesuatu. Sejalan dengan itu, penulis dapat menyatakan di sini bahwa pada proses pembelajaran di kelas yang berkait dengan eksplorasi adalah untuk memfasilitasi para siswa kita untuk belajar dan berlatih melakukan eksplorasi (‘learning by exploration is learning to explore’). Dengan analogi yang sama, pada proses pembelajaran di kelas-kelas matematika dan berkait dengan pemecahan masalah (problem-solving) adalah memfasilitasi para siswa kita untuk belajar dan berlatih melakukan memecahkan masalah (‘learning by problem-solving is learning to solve problem’). Karenanya, di Jepang (Isoda & Nakamura, 2011:10; Isoda & Katagiri, 2012; Isoda, 2015a; Isoda, 2015b) memperkenalkan proses pembelajarannya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach atau PSA).

Sikap dan nilai-nilai yang dapat dikembangkan selama proses pembelajaran matematika di kelas menurut Isoda (2015a) adalah: (1) keindahan (beautifulness), (2) rasa ingin tahu (curiosity), (3) kemasuk-akalan alasan (reasonableness), (4) penghargaan (appreciation). Berikut ini adalah naskah yang menjelaskan tentang sikap dan nilai yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran matematika:

0 16 1 Sikap dan Nilai

Naskah tersebut sudah dikirim ke Limas, majalah P4TK Matematika.

April 13, 2016 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: