fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

Selamat Memenangkan Ibadah di Bulan Suci Romadhon 1437H dengan Menjadi Muttaqin

Assalaamu’alaykum wr. wb.

images OK 3

Beberapa hari yang lalu, kita telah memasuki bulan romadhon 1437 H. Selama bulan nan suci dan agung itu, kita akan tetap berusaha untuk mengisi waktu-waktu siang dan malamnya dengan sholat, tadarus al Quran, tarawih, sedekah, maupun amalan lainnya. Semuanya dilakukan untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya. Marilah kita meluruskan niat puasa kita untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya, bukan dengan niat lain, sehingga niat puasa kita tidak ikhlas untuk mencapai ridho-Nya.

Bulan romadhon merupakan bulan tarbiyah atau bulan pendidikan untuk kita yang khusus dipanggil Allah dengan panggilan mesra dengan sebutan orang yang BERIMAN untuk melakukan shiyam agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dalam arti selama bulan itu kita dididik untuk belajar tidak melakukan hal-hal yang haram, bahkan untuk yang halal sekalipun. Sebagai contoh, bagi mereka yang sudah meniatkan dirinya untuk berpuasa, maka makan di siang hari menjadi haram meskipun yang akan kita makan itu merupakan makanan yang halal. Karena itu, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita dapat menjauhi yang haram.

Selama bulan nan suci dan agung itu, jika ada yang menganggu kita atau mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah S.W.T, Rosulullah s.a.w. mengajari kita untuk mengelak dari gangguan dan ajakan yang sesat itu sambil berucap: “Saya sedang berpuasa.” Karena itu ada hadits yang menyatakan bahwa selama bulan Romadlon pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Selama bulan nan agung itu pula, kita dapat saja minum sepuas kita, karena tidak ada yang melihat. Namun hal itu tidak kita lakukan karena kita sebagai orang yang BERIMAN kepada-Nya dan kepada hal-hal yang gaib, sudah berniat untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itulah inti yang pertama kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara individu. Itulah cara Allah S.W.T. melatih orang yang BERIMAN menjadi MUTTAQIN, Sekarang, tergantung pada diri kita masing-masing, akankah kita memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya atau tidak. Bagi kita yang betul-betul mengaku orang yang BERIMAN maka peluang tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. InsyaAllah. Allahumma Aamiin YRA.

Bukan itu saja, selama bulan puasa kita dididik juga untuk makin peka terhadap lingkungan kita, akan kelaparan orang miskin, papa dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Karena itu, selesai melaksanakan ibadah puasa, kita diwajibkan untuk mengeluarkan Zakat (Fitrah dan Mal) untuk menyucikan diri dan harta kita. Sekali lagi, harta yang halalpun harus dikeluarkan zakatnya. Agama Islam  mengajarkan bahwa pada harta kita yang halalpun ada hak orang fakir, miskin, papa, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Iktibarnya, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita dapat menjauhi yang haram, karena itu bukan hak kita. Itulah hak mereka yang fakir, miskin, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Sekali lagi kita yang sudah berpuasa sebulan penuh diharapkan akan menjadi makin taqwa. Itulah inti yang kedua kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara sosial.

Berkait dengan puasa dan karakter bangsa kita, sebagai pendidik kita harus merasa gagal melihat perkelahian antar pelajar, penyalah gunaan narkoba, korupsi yang telah merambah segala segi dan sisi kehidupan, kolusi, nepotisme, plagiarism, menghalalkan segala cara, ataupun kecurangan lainnya. Belum lagi, kalau kita mengambil contoh lain, kisah kelabu tentang pemimpin bangsa kita semisal Anas Urbaningrum, Akil Mochtar, KH Fuad Amin Imron dan Andi Malaranggeng. Meskipun dibanding dengan penghasilan sebagian besar rakyat Indonesia yang mereka pimpin pada umumnya, penghasilan keempatnya relatif cukup besar dan menggiurkan, tetapi mengapa keempatnya telah mengingkari nikmat dan anugerah Allah S.W.T., lalu mereka menjadi kufur nikmat?

kh-kholil-bangkalan

Belum lagi, kalau kita mengetahui bahwa KH Fuad Amin Imron yang dikenal luas sebagai ulama dan sesepuh di Bangkalan, Madura adalah juga merupakan cicit Syechona Holil. Orang Bangkalan mengetahui bahwa pasarean/makam Syechona Holil sering dikunjungi ummat Islam dari Jawa, luar jawa, maupun dari manca negara. Alasannya, Syechona Holil dikenal luas sebagai guru dari “Hadratussyekh” KH Hasyim Asyari, sang pendiri NU, kakek KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI. Lalu adilkah jika nama Syechona Holil yang tidak melakukan kekufur nikmatan tersebut lalu terbawa-bawa juga? Rasionalnya, KH Fuad Amin menjadi sesepuh di Bangkalan karena beliau adalah cicit Syechona Holil. Artinya, nama Syechona Holil melekat kuat sehingga tidak bisa dipisahkan dari nama KH Fuad Amin. Dengan kata lain, KH Fuad Amin tidak akan menjadi ulama dan sesepuh di Bangkalan  kalau beliau bukan cicit Syechona Holil. Alangkah sedihnya kita ummat Islam, nama besar Syechona Holil terbawa-bawa oleh perbuatan KH Fuad Amin.

Pertanyaaan menggelitik selanjutnya yang dapat diajukan adalah: “Mengapa hal seperti itu terjadi di negara kita dan tidak terjadi di negara lain yang beradab? Mengapa hal seperti itu terjadi pada Akil Mochtar dan Andi Malaranggeng yang bergelar pemimpin bangsa? Mengapa hal seperti itu terjadi pada KH Fuad Amin Imron yang bergelar pemimpin bangsa dan agama? Bagaimana warga bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini menjadi seperti itu? Adakah yang salah dengan pendidikan dan Negara kita? Apakah kita akan diam saja melihat hal tersebut? Bagaimana mengatasinya?” Simpulan awal yang dapat ditarik, sehingga dapat kita pelajari adalah KKN sudah merambah segala segi kehidupan dan wajib diperangi, terutama oleh ummat Islam. Karena di samping bertentangan dengan norma hukum, juga bertentangan dengan keinginan Ummat dan Allah S.W.T. Harus diakui bahwa KKN dilakukan bukanlah karena gaji yang kecil. Rasionalnya, kalau alasannya adalah karena gaji yang kecil, tentunya pemimpin besar sekaliber Anas Urbaningrum, Akil Mochtar dan Andi Malaranggeng tidak akan melakukannya. KKN dapat terjadi juga di kalangan pemimpin agama. Rasionalnya, kalau alasannya adalah bukan karena tokoh agama atau keturunannya, tentunya KH Fuad Amin Imron tidak akan melakukan korupsi. Namun kenyataannya, mereka berempat ditangkap dan saat ini meringkuk di penjara karena mereka melanggar norma agama dan hukum, yaitu korupsi. Tinggal menunggu pembalasan di akhirat.

Berkait dengan karakter bangsa, kita, ummat Islam dan bangsa Indonesia dapat belajar dari, dan mengambil hikmah dari Ki Hadjar Dewantara (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977:94) yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional yang telah menyatakan:  “Pengetahuan dan kepandaian janganlah dianggap maksud dan tujuan; tetapi hanya merupakan alat atau perkakas. Lain tidak. Bunganya yang kelak akan jadi buah yang harus diutamakan. Buah pendidikan adalah matangnya jiwa yang akan dapat mewujudkan hidup dan kehidupan yang tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain.” Selanjutnya Ki Hadjar Dewantara juga pernah menyatakan: “Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia. Sesaatpun aku tidak pernah menghianati tanah air dan bangsaku. Aku tidak pernah mengkorup kekayaan Negara.” Sejatinya yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara adalah juga ajaran Islam bukan? Tetapi mengapa sebagian ummat Islam ada yang tidak patuh dan sungguh-sungguh melaksanakannya sehingga terperosok dan telah dihukum di dunia, dipenjara dan dicemooh, serta kalau tidak cepat-cepat bertobat akan dihukum di akhirat juga di kelak kemudian hari dengan siksa yang teramat pedih?

Lesson learn lainnya, pada waktu masih duduk di bangku SMA, ketika Presiden Soeharto, waktu itu, akan melakukan kunjungan kerja ke Madura untuk kali pertama, penulis diajak sang ayahanda untuk berbelanja semisal ball point, kertas, pigura dan lain-lain ke satu toko. Waktu itu, sang ayahanda menjabat sebagai Kepala Bagian Pembangunan di Kantor Pembantu Gubernur di Madura. Setelah berbelanja, sang tauke memberi Ayahanda uang sebesar Rp200,00. Waktu itu uang senilai itu sangat besar. Tetapi ayahanda tidak menerima uang itu. Pada waktu itu, penulis yang masih polos melihat kejadian itu dan berkata di dalam hati kecilnya: “Alangkah bodohnya ayah saya. Kenapa uang itu tidak diberikan saja kepada anaknya?” Selang beberapa kayuhan dari toko tersebut, penulis bertanya: “Mengapa uang pemberian itu ditolak? Kan uang itu nilainya cukup besar? Kalau Bapak tidak mau, mengapa tidak dikasihkan ke saya saja? Kan Bapak sudah membayar, baru tuan toko memberi uang? Kan bukan suap?” Kembali  penulis berkata di dalam hati kecilnya: “Alangkah bodohnya ayah saya tadi.” Lalu dengan tenang ayah berkata: “Itu termasuk suap. Kata Nabi, yang menyuap dan yang disuap akan dimasukkan ke neraka.” Artinya, ayah saya telah berupaya untuk secara konsekuen dan konsisten melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan menjauhi larangan-Nya. Itulah ayah saya, meskipun tidak bergelar K.H. tetapi tetap berupaya untuk secara istiqomah menjadi insan yang muttaqin. Itulah sesungguhnya buah puasa selama bulan ramadhan. Ketika besar, penulis berpendapat bahwa yang dilakukan sang Ayahanda adalah benar adanya. Kita sebagai penganut agama islam, hendaknya dan harus berupaya untuk secara konsekuen dan konsisten, tanpa reserve, melaksanakan segala perintah Allah s.w.t. dan menjauhi setiap larangan-Nya, seperti yang telah dicontohkan Allahyarhamah Ayahanda tercinta.

00 ayah 2

Saya juga heran, pemimpin bangsa sekaliber Anas Urbaningrum, Akil Mochtar, KH Fuad Amin Imron dan Andi Malaranggeng dengan nama-nama Islam masih melakukan tindakan tidak terpuji. Ke mana hasil puasa mereka? Dalam kaadaan seperti inilah, meskipun dalam beberapa hal lainnya mungkin penulis tidak sepaham dengannya, penulis lalu teringat kepada Kakanda Nurcholis Majid, sang mantan Ketua PB HMI, bahwa sebagai kader HMI dengan huruf ‘I’ pada akhir singkatan itu, yang merepresentasikan ‘Islam’, hendaknya mereka mengamalkan ajaran Islam di dalam segala segi kehidupannya secara sungguh-sungguh, termasuk untuk tidak melakukan dan menjauhi korupsi, kolusi dan nepotisme. Perilaku itu tentunya tidak hanya berlaku untuk aktivis dan kader HMI, namun juga untuk aktivis Nasional, NU, Muhammadiyah, Al Irsyad ataupun Persis,seperti yang ditunjukkan dan dicontohkan Ki Hadjar Dewantara, Pak Natsir, Pak Syafii Maarif, Pak Mahfud MD, Pak Bagus Hadikusumo ataupun Pak Abdullah Hehamahua. Tentunya, contoh dari para pemimpin bangsa dan agama adalah untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tentunya teladan tersebut akan berperan sangat besar untuk ummat. Bukankah kita sebagai ummat Islam meyakini bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin dan kita juga meyakini bahwa pahala dan dosa adalah benar adanya? Pada intinya, warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam harus beradab, dengan mengamalkan ajaran Islam dalam segala sisi kehidupannya. Sudah saatnya kini, sebagai bangsa besar yang mayoritas penduduknya beragama Islam seharusnya kita tidak lagi meniru-niru melakukan perbuatan tercela semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan agama dan norma hukum. Jelaslah bahwa pendidikan di Indonesia, seperti yang diharapkan Ki Hadjar Dewantara, adalah dapat mewujudkan perilaku hidup dan kehidupan yang tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti yang diajarkan agama Islam.

Sejatinya, pendidikan harus dapat mendidik Bangsa Indonesia ini untuk mewujudkan Indonesia Raya yang maju dan beradab, utamanya pada tahun emas 2045, di saat Negara RI berusia 100 tahun. Bukankah itu cita-cita jajaran Kemdikbud? Karena itu, pendidikan harus menyiapkan kader-kader bangsa berikutnya yang memiliki karakter, idealis, berpikiran maju, dan rasional. Kata lainnya, warga bangsa ini ke depan harus memiliki sikap, keterampilan, pengetahuan, dan etos kerja prima sehingga pada akhirnya para siswa tersebut dapat bersaing dengan para siswa dari Negara lain. Sudah saatnya NU, Muhammadiyah, Al Irsyad ataupun Persis, serta organisasi Islam lainnya untuk secara sungguh-sungguh mengajak ummatnya untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ikut menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek. Prima baik perilakunya maupun cara berpikirnya.  Amin YRA.

 

th (18)

th (17)

th (19)

 

Kalaulah bangsa dan negara ini berhasil mengelola pendidikan seperti yang diinginkan sang Nabi, Ayahanda, Ki Hadjar Dewantara, di mana pendidikan karakter yang dikenal luas merupakan aspek sikap, maka tentunya tidak akan terjadi perkelahian antar sesama bangsa, korupsi, jurang antara si miskin dan si kaya, ataupun menghalalkan segala cara untuk tujuan yang dapat merugikan bangsa dan negaranya. Pernyataan sang Nabi, Ayahanda, Ki Hadjar Dewantara di atas menunjukkan bahwa beliau-beliau menempatkan pendidikan karakter sebagai dasar dan fondasi yang sangat penting. Kurikulum 2013 menempatkan hal itu pada Kompetensi Inti 1 dan 2. Di atasnya, Kompetensi Inti 3 (berkait dengan pengetahuan) dan Kompetensi Inti 4 (berkait dengan keterampilan) akan ditempatkan. Al Quran al Karim, Surah 13 Ar Ra’d ayat 11, menyatakan juga bahwa: “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (termasuk Rakyat Indonesia) tanpa kaum itu mau merubah nasibnya sendiri.” Di samping itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sudah bersabda: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.” Di masa sekarang ini, kemampuan berpikir semakin dibutuhkan sebagaimana dinyatakan National Research Council (NRC, 1989:1) beberapa tahun yang lalu: “Communication has created a world economy in which working smarter is more important than merely working harder. … require worker who are mentally fit – workers who are prepared to absorb new ideas, to adapt to change, to cope with ambiguity, to perceive patterns, and to solve unconventional problems.” Secara umum, sekali lagi sebagai ummat Islam, saya mengidamkan pendidikan di Indonesia akan menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek.

Untuk itulah, selama bulan romadhan dan sesudahnya, jangan nodai kebesaran dan keagungan agama Islam dengan tindakan yang melawan Allah S.W.T. dan Rasulnya Nabi Muhammad s.a.w. Kata lainnya, selama bulan romadhan dan sesudahnya, jangan nodai kebesaran dan keagungan agama Islam dengan tindakan yang tidak terpuji. Kita harus belajar dari kasus Kiai  Haji Fuad Amin Imron, Akil Mochtar, Atut Chosiah dan yang lainnya. Tindakan mereka dapat dikatakan telah mengingkari niknat (kufur nikmah) dan tidak bersyukur akan karunia Allah SWT. Ada yang menyatakan bahwa take home pay untuk pak Akil Mochtar adalah sekitar 200 juta rupiah. Dengan harta milyaran rupiah, apa yang dapat dilakukan pak Akil Mochtar di penjara seumur hidupnya? Bagaimana dengan keluarganya? Tetapi mengapa pak Akil Mochtar melakukan tindakan tidak terpuji dan melanggar ajaran agama Islam yang agung dan sempurna? Itulah salah satu yang merupakan tantangan terbesar bangsa kita, bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun belum sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Belum menjadi Muttaqin.

Mudah-mudahan kita semua dapat belajar bahwa mereka yang mengingkari-Nya akan mendapat hukuman yang setimpal. Pada waktu lalu, sebelum ada KPK, mungkin beliau akan terlepas dari hukuman di dunia. Namun menurut keyakinan saya, sesuai dengan dan berdasar atas ajaran Islam, hukuman itu tidak hanya di dunia, namun akan kekal sampai di akhirat kelak, kecuali suluruh rakyat Indonesia memafkannya. Karena sejatinya beliau-beliau itu melawan Allah dan Rasul-Nya. Naudzubillah. Karena itu, setelah sebulan melaksakan puasa, belajar dengan sungguh-sungguh menjadi muttaqin, mudah-mudahan kita menjadi ummat islam yang selalu bersyukur akan karunia Allah SWT dan tidak pernah mengingkari-Nya sebagaimana puasa mengajarkan kepada kita semua. Selanjutnya, mudah-mudahan yang tidak bersyukur dan mengingkari-Nya akan kembali ke jalan yang benar dan haq dengan melaksanakan taubat, melaksanakan dengan sungguh-sungguh melaksanakan apa yang diperintah Allah dan dicontohkan Rosul-Nya dan dengan sungguh-sungguh menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rosul-Nya.

Pertanyaan yang pantas diajukan berikutnya setelah melalui bulan itu adalah, sejauh mana dan seberapa besar keberhasilan shaum dan amalan kita pada hari-hari di bulan tersebut dalam mendekatkan diri kepada-Nya dan kepada sesama? Menurut sabda junjungan kita, Nabi besar Muhammad s.a.w.; ada dua kebahagiaan bagi orang yang sedang shaum, yaitu di kala ia akan berbuka puasa dan di saat ia akan menemui Rob-nya, sang Kholik. Tentunya yang terakhir ini hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang berhasil dan sukses melaksanakan shaum dan amalan lainnya sehingga ia menjadi seorang yang benar-benar bersih tanpa cacat dan cela di haribaan-Nya. Itulah yang kita harapkan. Karena itu, setelah menyelesaikan shaum, di saat lebaran, di saat kita merayakan kemenangan karena berhasil melaksankan ujian untuk makin menjadi taqwa, para sahabat dibimbing Rosulullah untuk mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minkum.” kepada sesama umat islam yang baru melaksanakan shaum. Ini pula yang harus diteladani. Suatu do’a, yang artinya mudah-mudahan amal kita dan amal Anda selama bulan romadhon nan agung ini diterima oleh-Nya. Insya Allah. Suatu do’a, agar kita makin Taqwa kepada-Nya. Insya Allah.

Pertanyaan berikutnya, akankah kita akan bertemu lagi di tahun-tahun yang akan datang dengan romadhan untuk makin mendekatkan diri kita dan akan menjadikan diri kita semakin taqwa kepada-Nya? InsyaAllah. Nabi dan para sahabat merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut. Semoga kita juga akan merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut.  Selama 11 bulan ke depan, buah romadhon tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya akan diuji. Kalau kita semakin melaksanakan perintah-Nya dan semakin menjauhi larangan-Nya, maka kadar ketaqwaan kita sudah semakin tinggi. Bagi mereka yang bertaqwa, janji Allah S.W.T.; surga balasannya. Bukan hanya surga balasannya nanti di hari akhir, namun dengan kesalihan Anda dan saya kebahagian itu akan didapat juga di dunia yang fana ini. Bukankah itu tujuan paling hakiki dari hidup kita ini? Mudah-mudahan Ramadhan 1437 H, ditambah dengan tindakan KPK akan meningkatkan ketaqwaan kita, ummat Islam pada umumnya,  penduduk mayoritas di negeri ini, akan menjadi WNI yang makin muttaqin. Aamiin YRA.

images Ok 2

Dari Bapak Drs M Soleh, M.Ed, mantan Instruktur PKG Matematika region Jakarta dan Pengawas Pendidikan Matematika di Jakarta, saya menerima 4 files di bawah ini. Bagi yang berminat membacanya, tinggal mengkliknya. Mudah-mudahan makin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah s.w.t. Sekali lagi, bangsa Indornesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam mengidamkan pendidikan di Indonesia akan menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek.Yang dalam Kurikulum 2013 hendaknya dicapai melalui  Kompetensi Inti 1 sampai Kompetensi Inti 4 (sikap, pengetahuan dan keterampilan)

MARHABAN RAMADHAN

PUASA1

PUASA2

PUASA3

MASYAA ALLAH

images

Berikut adalah tulisan P Soleh terbaru. Selamat membacanya.

PUASA IKHLAS 4

Berikut adalah tulisan P Soleh terbaru. Selamat membacanya.

Mei 31, 2016 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: