fadjarp3g

Situsnya Guru Matematika

What Can We Learn from the ELPSA, SA, and PSA Frameworks? The Experience of SEAQiM

00_cvr dalam seamej7_1fix

This article has been published on SEAMEJ (Southeast Asian Mathematics Education Journal) 2017. The SEAMEJ VOLUME 7, NO. 1 JUNE 2017,  is published by Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEORegional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (QITEP) in Mathematics, Yogyakarta, Indonesia. The SEAMEJ  (ISSN 2089-4716) 2017 (pages 65-76) can be downloaded from:

06_Fadjar Shadiq_Edited_Final

Iklan

Desember 6, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Selamat Hari Raya 1438 H. Taqobbal Allahu Minna wa Minkum

Alhamdulillah, kita telah melaksanakan  pada bulan romadhon 1438 H. Shiyam (berpuasa) diwajibkan  bagi kita yang khusus dipanggil Allah dengan panggilan mesra dengan sebutan orang yang BERIMAN, “Ya ayyuhal ladzina amanu, kutiba alaikumus shiyamu, kama kutiba alal ladzina min qablikum la allakum tattaqun.” Jadi, kita, ummat beriman melakukan shiyam agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dalam arti kita akan menjadi ummat yang akan berusaha untuk tetap mengerjakan segala perintah-Nya dan bertekad untuk menjauhi segala larangan-Nya.

Oleh karena itu, selama bulan itu kita dididik untuk belajar tidak melakukan hal-hal yang haram dan tercela serta bertentangan dengan perintah-Nya, bahkan untuk yang halal sekalipun. Sebagai contoh, bagi kita yang sudah meniatkan (di dalam hati) untuk berpuasa, maka makan di siang hari akan menjadi haram meskipun yang akan kita makan itu merupakan makanan yang halal. Karena itu, konsekuensinya, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita, ummat islam, dapat menjauhi yang haram. Itulah sejatinya inti puasa bagi ummat Islam. Cukuplah bagi saya, alQuran dan alHadits menjadi petunjuk  dan pedoman saya yang harus saya imani, agar saya menjadi orang yang berbahagia, tidak hanya di dunia yang fana ini, tetapi juga  akan berbahagia di hari pembalasan kelak. Saya akan selalu berdoa agar saya dan keluarga saya serta kakek, ayak dan bunda, serta anak cucu keturunan saya akan tetap teguh berpedoman dan tetap mengimani segala titah dan perintah Allah SWT sesuai yang ada pada alQuran serta telah dicontohkan panutan dan junjungan kita, nabi Muhammad s.a.w. melalui alHadits yang sohih. Aamiin y.r.a.

Selama bulan nan suci dan agung itu, kita akan tetap berusaha untuk mengisi waktu-waktu siang dan malamnya dengan sholat, tadarus al Quran, tarawih, sedekah, maupun amalan lainnya. Semuanya dilakukan untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya. Marilah kita meluruskan niat puasa kita untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya, bukan dengan niat lain, sehingga niat puasa kita tidak ikhlas untuk mencapai ridho-Nya. Karena itu, bulan romadhon merupakan bulan tarbiyah atau bulan pendidikan bagi ummat islam.

Selama bulan nan suci dan agung itu, jika ada yang menganggu kita atau mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah S.W.T, Rosulullah s.a.w. mengajari kita untuk mengelak dari gangguan dan ajakan yang sesat itu sambil berucap: “Saya sedang berpuasa.” Karena itu ada hadits yang menyatakan bahwa selama bulan Romadlon pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Selama bulan nan agung itu pula, kita dapat saja minum sepuas kita, karena tidak ada yang melihat. Namun hal itu tidak kita lakukan karena kita sebagai orang yang BERIMAN kepada-Nya dan kepada hal-hal yang gaib, sudah berniat untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itulah inti yang pertama kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara individu. Itulah cara Allah S.W.T. melatih orang yang BERIMAN menjadi MUTTAQIN, Sekarang, tergantung pada diri kita masing-masing, akankah kita memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya atau tidak. Bagi kita yang betul-betul mengaku orang yang BERIMAN maka peluang tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. InsyaAllah. Allahumma Aamiin YRA.

Bukan itu saja, selama bulan puasa kita dididik juga untuk makin peka terhadap lingkungan kita, akan kelaparan orang miskin, papa dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Karena itu, selesai melaksanakan ibadah puasa, kita diwajibkan untuk mengeluarkan Zakat (Fitrah dan Mal) untuk menyucikan diri dan harta kita. Sekali lagi, harta yang halalpun harus dikeluarkan zakatnya. Agama Islam  mengajarkan bahwa pada harta kita yang halalpun ada hak orang fakir, miskin, papa, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Iktibarnya, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita dapat menjauhi yang haram, karena itu bukan hak kita. Itulah hak mereka yang fakir, miskin, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Sekali lagi kita yang sudah berpuasa sebulan penuh diharapkan akan menjadi makin taqwa. Itulah inti yang kedua kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara sosial.

Pertanyaan yang pantas diajukan berikutnya setelah melalui bulan romadhon 1438 H itu adalah, sejauh mana dan seberapa besar keberhasilan shaum dan amalan kita pada hari-hari di bulan tersebut dalam mendekatkan diri kepada-Nya dan kepada sesama? Menurut sabda junjungan kita, Nabi besar Muhammad s.a.w.; ada dua kebahagiaan bagi orang yang sedang shaum, yaitu di kala ia akan berbuka puasa dan di saat ia akan menemui Rob-nya, sang Kholik. Tentunya yang terakhir ini hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang berhasil dan sukses melaksanakan shaum dan amalan lainnya sehingga ia menjadi seorang yang benar-benar bersih tanpa cacat dan cela di haribaan-Nya.

Pertanyaan berikutnya, akankah kita akan bertemu lagi di tahun-tahun yang akan datang dengan romadhan untuk makin mendekatkan diri kita dan akan menjadikan diri kita semakin taqwa kepada-Nya? InsyaAllah. Nabi dan para sahabat merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut. Semoga kita juga akan merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut.  Selama 11 bulan ke depan, buah romadhon tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya akan diuji. Kalau kita semakin melaksanakan perintah-Nya dan semakin menjauhi larangan-Nya, maka kadar ketaqwaan kita sudah semakin tinggi. Bagi mereka yang bertaqwa, janji Allah S.W.T.; surga balasannya. Bukan hanya surga balasannya nanti di hari akhir, namun dengan kesalihan Anda dan saya kebahagian itu akan didapat juga di dunia yang fana ini. Bukankah itu tujuan paling hakiki dari hidup kita ini? Mudah-mudahan Ramadhan 1438 H. akan meningkatkan ketaqwaan kita, ummat Islam pada umumnya,  penduduk mayoritas di negeri ini, akan menjadi WNI yang makin muttaqin. Aamiin YRA.

images

Kini bagaimana ucapan kita kepada saudara seiman yang baru menyelesaikan shaum. Pada waktu masih kecil, di Pamekasan, sekitar Jl Bonorogo, desa Barurambat Kota, pada sekitar tahun 1960-an, sebelum Sahur tetangga ada yang melakukan tarhim, dari atas pohon, sambil membangunkan warga bersahur, mereka menyerukan:

Taqobbal Allahu minkum … minna wa minkum ya Karim … .

Allohu Allah robbuna …. ….

Suara dan doa tersebut terasa sangat menyentuh hati. Atinya kurang lebih adalah:

Semoga Allah menerima amal kita dan amal Anda.

Begitu tulusnya mereka mendoakan kita, ummat Islam yang lain. Semoga puasa kita diterima-Nya. Kalau puasa kita diterima-Nya maka kita akan bertambah taqwa. Doa saudara kita tadi itu jauh lebih dahsyat dari hanya meminta maaf. Ketika besar, sadarlah penulis bahwa kalimat-kalimat itulah yang dicontohkan baginda Rasul kepada Ummat-Nya pada saat merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh, sehingga harus dicontoh dan diikuti. Alasan utamanya adalah karena kita pengikut Allah dan baginda Rasul, dan berdasarkan:

  1. Pernyataan-Nya bahwa Islam adalah sudah sempurna (Alyawma akmaltu lakum dienakum …. )
  2. Perintah-Nya agar menuruti perintah Allah dan contoh Rosulnya (Atiúllah wa atiür rosul ). Artinya, dalam hal ibadah kita harus mengikuti yang dicontohkan baginda Rasul. Contohnya Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda: ‘Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat‘. Hal ini berarti juga bahwa tidak ada hak manusia untuk menambah hal-hal yang tidak dicontohkan Nabi dalam hal Ibadah dan akan dikategorikan sebagai ‘sesat’.
  3. Manusia sebagai ‘Cholifah fil Ardhi‘ (Q2:30), dalam hal keduniaan kita harus mengelola dunia sesuka kita selama tidak ada larangan Allah dan Rosul-Nya. Hal ini berarti juga bahwa tidak ada hak manusia untuk melarang hal-hal kreatif dan inovatif selama  hal-hal itu tidak dilarang Allah dan Rosul-Nya. Contohnya, ummat Islam seharusnya di depan dan paling dahulu mengelola alam berdasar IPTEK. Nabi sendiri mengakui bahwa dalam hal keduniaan kita harus lebih pintar dari Nabi (Antum aklamu bi umuriddunyakum), meskipun Nabi dikenal memiliki sifat fathonah, cerdas, smart.

Sekali lagi, cukuplah bagi saya alQuran dan alHadits menjadi petunjuk  dan pedoman saya yang harus saya imani. Karena itu yang dicontohkan baginda Nabi dan diikuti para sahabatnya, maka tidak ada lain selain berkata “samikna wa athokna” yang berarti kita mengikutinya dan menaatinya maka tanpa tanya ini dan itu. Saya, Fadjar Shadiq, M.App.Sc, dan Keluarga, mengucapkan dan berdoá dengan tulus:

Selamat  Idul Fitri 1437 H. Taqobbal Allahu minna wa minkum.
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Sebagaimana, disampaikan di depan, kita akan menjadi ummat yang makin bertaqwa. Aamiin YRA

 

 

 

selamat-idul-fitri-2

Berikut ini adalah WA yang saya terima.

📚 Pesan Dakwah
—————————-

MARI UCAPKAN YANG BENAR
By Ust. Arya Abie adham

Sejalan dengan akan datangnya IDUL FITRI sebentar lagi, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR & BATHIN.” Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus dengan ucapan semacam itu.

Sungguh sebuah salah kaprah, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri. Demikian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kita.

Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukkan keharusan mengucapkan “ Mohon Maaf Lahir dan Batin ” disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, ucapan yang keliru saat Idul Fitri, yakni ucapan: “MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”.
Arti dari ucapan tersebut adalah:“Kita kembali dan meraih kemenangan.” KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?

Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang ucapkan: “Minal ‘Aidin wal Faizin.” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” mungkin kita MENGIRA artinya adalah kalimat selanjutnya.

Ini sungguh KELIRU luar biasa. LUAR BIASA keliru… hehe… ^^

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain…. PASTI PADA BENGONG BIN BINGUNG…!! ^^ Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah SAW, yaitu:
“Taqobbal Allahu minna wa minkum.” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian)

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM kita :
“Selamat  Idul Fitri. Taqobbal Allahu minna wa minkum”
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian)

Semoga risalah ini bermanfaat dan saling berbagi niat untuk meluruskan kekeliruan yang selama ini terjadi…
Silahkan disebarkan.
Baraka Allah fiikum…. ^^

Note :
Untuk kalimat : “Mohon maaf lahir & bathin” bahasa arabnya adalah: AS’ALUKAL AFWAN MINAL DZAHiRAN WAL BATHINIAH.

Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamikum wa Ahalahullahu ‘Alaik. (Semoga Allah menerima <amalan> dari kami dan darimu, juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya)

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN agar memiliki arti yg jelas adalah “Ja‘alanallahu Minal Aidin wal Faidzin”
(semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali <fitrah/suci> & orang-orang yang menang)

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

[Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446.]

———————-

♻ Group Whatsapp Tarbiyah Online

 

Berikutnya adalah foto keluarga besar Sahwanoeddin pada Lebaran 1438 H.

IMG-20170625-WA0053

IMG-20170625-WA0047

IMG-20170625-WA0054

IMG-20170625-WA0051

IMG-20170625-WA0055

IMG-20170625-WA0057

 

Setelah lebaran keluarga Bani Sahwan jalan-jalan ke pulau Gili Genteng di Kab Sumenep, Madura. Berikut foto-fotonya.

 

 

Ini foto ananda Fitriani, puteri berbaju putih, yang sedang mengikuti program SM3T di Provinsi Kepulauan Riau.

IMG-20170625-WA0058

 

Juli 10, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Tulisan Terbaru Pak Soleh (IV)

Berikut ini adalah tulisan terbaru Pak Soleh. Pak Soleh, lengkapnya Drs. Moh Soleh, M.Ed., mantan Instruktur Nasional PKG (Pemantapan Kerja Guru) Matematika, region Jakarta mantan Pengawas di DKI Jakarta. Beliau mendapat gelar M.Ed dari University of Bristol (UK).

Saya pernah satu kamar dengan Pak Soleh waktu kita mengikuti diklat di University of Bristol. Berkait dengan acara TV beliau suka acara Drama sedang saya suka acara Olah Raga. Ketika hari Sabtu, beliau ingin acaranya drama sedangkan saya ingin acaranya Olah Raga, yaitu sepak bola, waktu itu yang ditayangkan liga Italia. Jadilah kita rebutan acara TV. Akhirnya didapat kesepakatan tidak tertulis, bahwa untuk acara Olah Raga, yaitu sepak bola liga Italia, kita melihat acara  Olah Raga yang ditayangkan tersebut, selebihnya saya mengalah untuk melihat film drama.

Beliau juga produktif menulis tentang Islam dikaitkan dengan Matematika. Tulisan beliau enak dibaca dan perlu. Selamat menikmati.

Berikut ini adalah beberapa tulisannya:

ADZAB NERAKA DAN NIKMAT SURGA DALAM ALQUR’AN

ARRAHMAN ARRAHIIM

AYAT IMPLIKASI

BEBERAPA DOA DALAM ALQUR’AN

MENSYUKURI NIKMAT SIRAMAN QURANI (14.11.14

RABB KU MEMANGGIL

3 MENYANTUNI ANAK YATIM

 

 

Juni 8, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Selamat Memenangkan Ibadah di Bulan Suci Romadhon 1438 H dengan Menjadi Muttaqin

Assalaamu’alaykum wr. wb.

images OK 3

Beberapa hari yang lalu, kita telah memasuki bulan romadhon 1438 H. Selama bulan nan suci dan agung itu, kita akan tetap berusaha untuk mengisi waktu-waktu siang dan malamnya dengan sholat, tadarus al Quran, tarawih, sedekah, maupun amalan lainnya. Semuanya dilakukan untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya. Marilah kita meluruskan niat puasa kita untuk mendekatkan diri ini kepada-Nya, bukan dengan niat lain, sehingga niat puasa kita tidak ikhlas untuk mencapai ridho-Nya.

Bulan romadhon merupakan bulan tarbiyah atau bulan pendidikan untuk kita yang khusus dipanggil Allah dengan panggilan mesra dengan sebutan orang yang BERIMAN untuk melakukan shiyam agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dalam arti selama bulan itu kita dididik untuk belajar tidak melakukan hal-hal yang haram, bahkan untuk yang halal sekalipun. Sebagai contoh, bagi mereka yang sudah meniatkan dirinya untuk berpuasa, maka makan di siang hari menjadi haram meskipun yang akan kita makan itu merupakan makanan yang halal. Karena itu, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita dapat menjauhi yang haram.

Selama bulan nan suci dan agung itu, jika ada yang menganggu kita atau mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah S.W.T, Rosulullah s.a.w. mengajari kita untuk mengelak dari gangguan dan ajakan yang sesat itu sambil berucap: “Saya sedang berpuasa.” Karena itu ada hadits yang menyatakan bahwa selama bulan Romadlon pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Selama bulan nan agung itu pula, kita dapat saja minum sepuas kita, karena tidak ada yang melihat. Namun hal itu tidak kita lakukan karena kita sebagai orang yang BERIMAN kepada-Nya dan kepada hal-hal yang gaib, sudah berniat untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itulah inti yang pertama kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara individu. Itulah cara Allah S.W.T. melatih orang yang BERIMAN menjadi MUTTAQIN, Sekarang, tergantung pada diri kita masing-masing, akankah kita memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya atau tidak. Bagi kita yang betul-betul mengaku orang yang BERIMAN maka peluang tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. InsyaAllah. Allahumma Aamiin YRA.

Bukan itu saja, selama bulan puasa kita dididik juga untuk makin peka terhadap lingkungan kita, akan kelaparan orang miskin, papa dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Karena itu, selesai melaksanakan ibadah puasa, kita diwajibkan untuk mengeluarkan Zakat (Fitrah dan Mal) untuk menyucikan diri dan harta kita. Sekali lagi, harta yang halalpun harus dikeluarkan zakatnya. Agama Islam  mengajarkan bahwa pada harta kita yang halalpun ada hak orang fakir, miskin, papa, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Iktibarnya, selama bulan-bulan berikutnya sudah sewajarnya kita dapat menjauhi yang haram, karena itu bukan hak kita. Itulah hak mereka yang fakir, miskin, janda, dan mereka yang terlunta-lunta hidupnya. Sekali lagi kita yang sudah berpuasa sebulan penuh diharapkan akan menjadi makin taqwa. Itulah inti yang kedua kita berpuasa  agar kita menjadi orang yang sholeh secara sosial.

Berkait dengan puasa dan karakter bangsa kita, sebagai pendidik kita harus merasa gagal melihat perkelahian antar pelajar, penyalah gunaan narkoba, korupsi yang telah merambah segala segi dan sisi kehidupan, kolusi, nepotisme, plagiarism, menghalalkan segala cara, ataupun kecurangan lainnya. Belum lagi, kalau kita mengambil contoh lain, kisah kelabu tentang pemimpin bangsa kita semisal Anas Urbaningrum, Akil Mochtar, KH Fuad Amin Imron dan Andi Malaranggeng. Meskipun dibanding dengan penghasilan sebagian besar rakyat Indonesia yang mereka pimpin pada umumnya, penghasilan keempatnya relatif cukup besar dan menggiurkan, tetapi mengapa keempatnya telah mengingkari nikmat dan anugerah Allah S.W.T., lalu mereka menjadi kufur nikmat?

kh-kholil-bangkalan

Belum lagi, kalau kita mengetahui bahwa KH Fuad Amin Imron yang dikenal luas sebagai ulama dan sesepuh di Bangkalan, Madura adalah juga merupakan cicit Syechona Holil. Orang Bangkalan mengetahui bahwa pasarean/makam Syechona Holil sering dikunjungi ummat Islam dari Jawa, luar jawa, maupun dari manca negara. Alasannya, Syechona Holil dikenal luas sebagai guru dari “Hadratussyekh” KH Hasyim Asyari, sang pendiri NU, kakek KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI. Lalu adilkah jika nama Syechona Holil yang tidak melakukan kekufur nikmatan tersebut lalu terbawa-bawa juga? Rasionalnya, KH Fuad Amin menjadi sesepuh di Bangkalan karena beliau adalah cicit Syechona Holil. Artinya, nama Syechona Holil melekat kuat sehingga tidak bisa dipisahkan dari nama KH Fuad Amin. Dengan kata lain, KH Fuad Amin tidak akan menjadi ulama dan sesepuh di Bangkalan  kalau beliau bukan cicit Syechona Holil. Alangkah sedihnya kita ummat Islam, nama besar Syechona Holil terbawa-bawa oleh perbuatan KH Fuad Amin.

Pertanyaaan menggelitik selanjutnya yang dapat diajukan adalah: “Mengapa hal seperti itu terjadi di negara kita dan tidak terjadi di negara lain yang beradab? Mengapa hal seperti itu terjadi pada Akil Mochtar dan Andi Malaranggeng yang bergelar pemimpin bangsa? Mengapa hal seperti itu terjadi pada KH Fuad Amin Imron yang bergelar pemimpin bangsa dan agama? Bagaimana warga bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini menjadi seperti itu? Adakah yang salah dengan pendidikan dan Negara kita? Apakah kita akan diam saja melihat hal tersebut? Bagaimana mengatasinya?” Simpulan awal yang dapat ditarik, sehingga dapat kita pelajari adalah KKN sudah merambah segala segi kehidupan dan wajib diperangi, terutama oleh ummat Islam. Karena di samping bertentangan dengan norma hukum, juga bertentangan dengan keinginan Ummat dan Allah S.W.T. Harus diakui bahwa KKN dilakukan bukanlah karena gaji yang kecil. Rasionalnya, kalau alasannya adalah karena gaji yang kecil, tentunya pemimpin besar sekaliber Anas Urbaningrum, Akil Mochtar dan Andi Malaranggeng tidak akan melakukannya. KKN dapat terjadi juga di kalangan pemimpin agama. Rasionalnya, kalau alasannya adalah bukan karena tokoh agama atau keturunannya, tentunya KH Fuad Amin Imron tidak akan melakukan korupsi. Namun kenyataannya, mereka berempat ditangkap dan saat ini meringkuk di penjara karena mereka melanggar norma agama dan hukum, yaitu korupsi. Tinggal menunggu pembalasan di akhirat.

Berkait dengan karakter bangsa, kita, ummat Islam dan bangsa Indonesia dapat belajar dari, dan mengambil hikmah dari Ki Hadjar Dewantara (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977:94) yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional yang telah menyatakan:  “Pengetahuan dan kepandaian janganlah dianggap maksud dan tujuan; tetapi hanya merupakan alat atau perkakas. Lain tidak. Bunganya yang kelak akan jadi buah yang harus diutamakan. Buah pendidikan adalah matangnya jiwa yang akan dapat mewujudkan hidup dan kehidupan yang tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain.” Selanjutnya Ki Hadjar Dewantara juga pernah menyatakan: “Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia. Sesaatpun aku tidak pernah menghianati tanah air dan bangsaku. Aku tidak pernah mengkorup kekayaan Negara.” Sejatinya yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara adalah juga ajaran Islam bukan? Tetapi mengapa sebagian ummat Islam ada yang tidak patuh dan sungguh-sungguh melaksanakannya sehingga terperosok dan telah dihukum di dunia, dipenjara dan dicemooh, serta kalau tidak cepat-cepat bertobat akan dihukum di akhirat juga di kelak kemudian hari dengan siksa yang teramat pedih?

Lesson learnt lainnya, pada waktu masih duduk di bangku SMA, ketika Presiden Soeharto, waktu itu, akan melakukan kunjungan kerja ke Madura untuk kali pertama, penulis diajak sang ayahanda untuk berbelanja semisal ball point, kertas, pigura dan lain-lain ke satu toko. Waktu itu, sang ayahanda menjabat sebagai Kepala Bagian Pembangunan di Kantor Pembantu Gubernur di Madura. Setelah berbelanja, sang tauke memberi Ayahanda uang sebesar Rp200,00. Waktu itu uang senilai itu sangat besar. Tetapi ayahanda tidak menerima uang itu. Pada waktu itu, penulis yang masih polos melihat kejadian itu dan berkata di dalam hati kecilnya: “Alangkah bodohnya ayah saya. Kenapa uang itu tidak diberikan saja kepada anaknya?” Selang beberapa kayuhan dari toko tersebut, penulis bertanya: “Mengapa uang pemberian itu ditolak? Kan uang itu nilainya cukup besar? Kalau Bapak tidak mau, mengapa tidak dikasihkan ke saya saja? Kan Bapak sudah membayar, baru tuan toko memberi uang? Kan bukan suap?” Kembali  penulis berkata di dalam hati kecilnya: “Alangkah bodohnya ayah saya tadi.” Lalu dengan tenang ayah berkata: “Itu termasuk suap. Kata Nabi, yang menyuap dan yang disuap akan dimasukkan ke neraka.” Artinya, ayah saya telah berupaya untuk secara konsekuen dan konsisten melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan menjauhi larangan-Nya. Itulah ayah saya, meskipun tidak bergelar K.H. tetapi tetap berupaya untuk secara istiqomah menjadi insan yang muttaqin. Itulah sesungguhnya buah puasa selama bulan ramadhan. Ketika besar, penulis berpendapat bahwa yang dilakukan sang Ayahanda adalah benar adanya. Kita sebagai penganut agama islam, hendaknya dan harus berupaya untuk secara konsekuen dan konsisten, tanpa reserve, melaksanakan segala perintah Allah s.w.t. dan menjauhi setiap larangan-Nya, seperti yang telah dicontohkan Allahyarhamah Ayahanda tercinta.

00 ayah 2

Saya juga heran, pemimpin bangsa sekaliber Anas Urbaningrum, Akil Mochtar, KH Fuad Amin Imron dan Andi Malaranggeng dengan nama-nama Islam masih melakukan tindakan tidak terpuji. Ke mana hasil puasa mereka? Dalam kaadaan seperti inilah, meskipun dalam beberapa hal lainnya mungkin penulis tidak sepaham dengannya, penulis lalu teringat kepada Kakanda Nurcholis Majid, sang mantan Ketua PB HMI, bahwa sebagai kader HMI dengan huruf ‘I’ pada akhir singkatan itu, yang merepresentasikan ‘Islam’, hendaknya mereka mengamalkan ajaran Islam di dalam segala segi kehidupannya secara sungguh-sungguh, termasuk untuk tidak melakukan dan menjauhi korupsi, kolusi dan nepotisme. Perilaku itu tentunya tidak hanya berlaku untuk aktivis dan kader HMI, namun juga untuk aktivis Nasional, NU, Muhammadiyah, Al Irsyad ataupun Persis,seperti yang ditunjukkan dan dicontohkan Ki Hadjar Dewantara, Pak Natsir, Pak Syafii Maarif, Pak Mahfud MD, Pak Bagus Hadikusumo ataupun Pak Abdullah Hehamahua. Tentunya, contoh dari para pemimpin bangsa dan agama adalah untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tentunya teladan tersebut akan berperan sangat besar untuk ummat. Bukankah kita sebagai ummat Islam meyakini bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin dan kita juga meyakini bahwa pahala dan dosa adalah benar adanya? Pada intinya, warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam harus beradab, dengan mengamalkan ajaran Islam dalam segala sisi kehidupannya. Sudah saatnya kini, sebagai bangsa besar yang mayoritas penduduknya beragama Islam seharusnya kita tidak lagi meniru-niru melakukan perbuatan tercela semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan agama dan norma hukum. Jelaslah bahwa pendidikan di Indonesia, seperti yang diharapkan Ki Hadjar Dewantara, adalah dapat mewujudkan perilaku hidup dan kehidupan yang tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti yang diajarkan agama Islam.

Sejatinya, pendidikan harus dapat mendidik Bangsa Indonesia ini untuk mewujudkan Indonesia Raya yang maju dan beradab, utamanya pada tahun emas 2045, di saat Negara RI berusia 100 tahun. Bukankah itu cita-cita jajaran Kemdikbud? Karena itu, pendidikan harus menyiapkan kader-kader bangsa berikutnya yang memiliki karakter, idealis, berpikiran maju, dan rasional. Kata lainnya, warga bangsa ini ke depan harus memiliki sikap, keterampilan, pengetahuan, dan etos kerja prima sehingga pada akhirnya para siswa tersebut dapat bersaing dengan para siswa dari Negara lain. Sudah saatnya NU, Muhammadiyah, Al Irsyad ataupun Persis, serta organisasi Islam lainnya untuk secara sungguh-sungguh mengajak ummatnya untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ikut menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek. Prima baik perilakunya maupun cara berpikirnya.  Amin YRA.

th (18)

th (17)

th (19)

Kalaulah bangsa dan negara ini berhasil mengelola pendidikan seperti yang diinginkan sang Nabi, Ayahanda, Ki Hadjar Dewantara, di mana pendidikan karakter yang dikenal luas merupakan aspek sikap, maka tentunya tidak akan terjadi perkelahian antar sesama bangsa, korupsi, jurang antara si miskin dan si kaya, ataupun menghalalkan segala cara untuk tujuan yang dapat merugikan bangsa dan negaranya. Pernyataan sang Nabi, Ayahanda, Ki Hadjar Dewantara di atas menunjukkan bahwa beliau-beliau menempatkan pendidikan karakter sebagai dasar dan fondasi yang sangat penting. Kurikulum 2013 menempatkan hal itu pada Kompetensi Inti 1 dan 2. Di atasnya, Kompetensi Inti 3 (berkait dengan pengetahuan) dan Kompetensi Inti 4 (berkait dengan keterampilan) akan ditempatkan. Al Quran al Karim, Surah 13 Ar Ra’d ayat 11, menyatakan juga bahwa: “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (termasuk Rakyat Indonesia) tanpa kaum itu mau merubah nasibnya sendiri.” Di samping itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sudah bersabda: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.” Di masa sekarang ini, kemampuan berpikir semakin dibutuhkan sebagaimana dinyatakan National Research Council(NRC, 1989:1) beberapa tahun yang lalu: “Communication has created a world economy in which working smarter is more important than merely working harder. … require worker who are mentally fit – workers who are prepared to absorb new ideas, to adapt to change, to cope with ambiguity, to perceive patterns, and to solve unconventional problems.” Secara umum, sekali lagi sebagai ummat Islam, saya mengidamkan pendidikan di Indonesia akan menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek.

Untuk itulah, selama bulan romadhan dan sesudahnya, jangan nodai kebesaran dan keagungan agama Islam dengan tindakan yang melawan Allah S.W.T. dan Rasulnya Nabi Muhammad s.a.w. Kata lainnya, selama bulan romadhan dan sesudahnya, jangan nodai kebesaran dan keagungan agama Islam dengan tindakan yang tidak terpuji. Kita harus belajar dari kasus Kiai  Haji Fuad Amin Imron, Akil Mochtar, Atut Chosiah dan yang lainnya. Tindakan mereka dapat dikatakan telah mengingkari niknat (kufur nikmah) dan tidak bersyukur akan karunia Allah SWT. Ada yang menyatakan bahwa take home pay untuk pak Akil Mochtar adalah sekitar 200 juta rupiah. Dengan harta milyaran rupiah, apa yang dapat dilakukan pak Akil Mochtar di penjara seumur hidupnya? Bagaimana dengan keluarganya? Tetapi mengapa pak Akil Mochtar melakukan tindakan tidak terpuji dan melanggar ajaran agama Islam yang agung dan sempurna? Itulah salah satu yang merupakan tantangan terbesar bangsa kita, bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun belum sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Belum menjadi Muttaqin.

Mudah-mudahan kita semua dapat belajar bahwa mereka yang mengingkari-Nya akan mendapat hukuman yang setimpal. Pada waktu lalu, sebelum ada KPK, mungkin beliau akan terlepas dari hukuman di dunia. Namun menurut keyakinan saya, sesuai dengan dan berdasar atas ajaran Islam, hukuman itu tidak hanya di dunia, namun akan kekal sampai di akhirat kelak, kecuali suluruh rakyat Indonesia memafkannya. Karena sejatinya beliau-beliau itu melawan Allah dan Rasul-Nya. Naudzubillah. Karena itu, setelah sebulan melaksakan puasa, belajar dengan sungguh-sungguh menjadi muttaqin, mudah-mudahan kita menjadi ummat islam yang selalu bersyukur akan karunia Allah SWT dan tidak pernah mengingkari-Nya sebagaimana puasa mengajarkan kepada kita semua. Selanjutnya, mudah-mudahan yang tidak bersyukur dan mengingkari-Nya akan kembali ke jalan yang benar dan haq dengan melaksanakan taubat, melaksanakan dengan sungguh-sungguh melaksanakan apa yang diperintah Allah dan dicontohkan Rosul-Nya dan dengan sungguh-sungguh menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rosul-Nya.

Pertanyaan yang pantas diajukan berikutnya setelah melalui bulan itu adalah, sejauh mana dan seberapa besar keberhasilan shaum dan amalan kita pada hari-hari di bulan tersebut dalam mendekatkan diri kepada-Nya dan kepada sesama? Menurut sabda junjungan kita, Nabi besar Muhammad s.a.w.; ada dua kebahagiaan bagi orang yang sedang shaum, yaitu di kala ia akan berbuka puasa dan di saat ia akan menemui Rob-nya, sang Kholik. Tentunya yang terakhir ini hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang berhasil dan sukses melaksanakan shaum dan amalan lainnya sehingga ia menjadi seorang yang benar-benar bersih tanpa cacat dan cela di haribaan-Nya. Itulah yang kita harapkan. Karena itu, setelah menyelesaikan shaum, di saat lebaran, di saat kita merayakan kemenangan karena berhasil melaksankan ujian untuk makin menjadi taqwa, para sahabat dibimbing Rosulullah untuk mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minkum.” kepada sesama umat islam yang baru melaksanakan shaum. Ini pula yang harus diteladani. Suatu do’a, yang artinya mudah-mudahan amal kita dan amal Anda selama bulan romadhon nan agung ini diterima oleh-Nya. Insya Allah. Suatu do’a, agar kita makin Taqwa kepada-Nya. Insya Allah.

Pertanyaan berikutnya, akankah kita akan bertemu lagi di tahun-tahun yang akan datang dengan romadhan untuk makin mendekatkan diri kita dan akan menjadikan diri kita semakin taqwa kepada-Nya? InsyaAllah. Nabi dan para sahabat merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut. Semoga kita juga akan merasa sedih berpisah dengan bulan nan suci dan agung tersebut.  Selama 11 bulan ke depan, buah romadhon tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya akan diuji. Kalau kita semakin melaksanakan perintah-Nya dan semakin menjauhi larangan-Nya, maka kadar ketaqwaan kita sudah semakin tinggi. Bagi mereka yang bertaqwa, janji Allah S.W.T.; surga balasannya. Bukan hanya surga balasannya nanti di hari akhir, namun dengan kesalihan Anda dan saya kebahagian itu akan didapat juga di dunia yang fana ini. Bukankah itu tujuan paling hakiki dari hidup kita ini? Mudah-mudahan Ramadhan 1437 H, ditambah dengan tindakan KPK akan meningkatkan ketaqwaan kita, ummat Islam pada umumnya,  penduduk mayoritas di negeri ini, akan menjadi WNI yang makin muttaqin. Aamiin YRA.

images Ok 2

Dari Bapak Drs M Soleh, M.Ed, mantan Instruktur PKG Matematika region Jakarta dan Pengawas Pendidikan Matematika di Jakarta, saya menerima 4 files di bawah ini. Bagi yang berminat membacanya, tinggal mengkliknya. Mudah-mudahan makin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah s.w.t. Sekali lagi, bangsa Indornesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam mengidamkan pendidikan di Indonesia akan menghasilkan intelek yang santri dan santri yang intelek.Yang dalam Kurikulum 2013 hendaknya dicapai melalui  Kompetensi Inti 1 sampai Kompetensi Inti 4 (sikap, pengetahuan dan keterampilan)

MARHABAN RAMADHAN

PUASA1

PUASA2

PUASA3

MASYAA ALLAH

images

Berikut adalah tulisan P Soleh terbaru. Selamat membacanya.

PUASA IKHLAS 4

Berikut adalah tulisan P Soleh terbaru. Selamat membacanya.

Juni 8, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Report on Attending the 2017 APEC-Tsukuba and UNESCO (MGIEP) International Conference XI: Innovation on Mathematics Education through Lesson Study, Textbook Development for SDGs, STEM, and Energy by Cross-border Education February 9-12, 2017 At Tokyo Campus, University of Tsukuba, Japan.

apec2017

2017-fjr-apectsukuba

img-20170211-wa0014

The Centre for Research on International Cooperation in Educational Development (CRICED), University of Tsukuba, Japan, invited 2 participants from SEAMEO QITEP in Mathematics, Yogyakarta, Indonesia, to attend the APEC-Tsukuba International Conference XI. Those two participants were.

  1. Dr. Wahyudi (The Director of SEAMEO QITEP in Mathematics).
  2. Fadjar Shadiq, M.App.Sc (The Consultant of SEAMEO QITEP in Mathematics.)

The APEC-Tsukuba International Conference XI

Such as the previous Conference, this Conference includes keynote lectures, short presentations, discussions, open lesson, and workshops. The Conference was hosted by CRICED, University of Tsukuba under the APEC HRD 03-2015a. The Conference was also Co-hosted by Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT), Japan; Ministry of Education, Thailand; Khon Kaen University, Thailand; Mahatma Gandhi Institute of Education for Peace and Sustainable Development (UNESCO-MGIEP) and Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). This conference also supported by Mathematics Education Society, Japan.

The General Chair of this conference was Prof. Dr. Masami Isoda (APEC Project Overseer), while the APEC Project Co-Overseer was Ass. Prof. Dr. Maitree Inprasitha (Khon Kaen University Thailand). In addition, this international level conference was attended by prominent mathematics educators from Europe: Prof Dr. Carl Winsløw (Denmark) and Prof Dr. Ivan Rostislavovich Vysotskiy (Russia); from Canada (Professor Dr. David Wagner) from USA (Dr Patsy Wang Iverson and Dr. Colleen M. Eddy); from Korea (Prof. Dr. Hee-chan Lew) and from Chile (Prof Roberto Araya).

Rationale under the APEC Projects

APEC Lesson Study Projects (since 2006) proposed by Thailand and Japan have established APEC Lesson Study Network and held the meetings for project-planning in Tokyo every February and for reporting in Thailand every September, annually. The Project approved as APEC HRD 03-2015a on the topic of Energy Efficiency will be extended until the year 2017. Educational Ministerial Meeting (2016) on APEC HRD emphasized the importance of SDGs by UNESCO in terms of implementing in particular SDG 4 on education. In this context, in the year 2017, the conference will be focused on followings:

  • Planning the development of the textbooks for Energy Efficiency by cross-border lesson study
  • For the development of the textbooks, participants will learn about SDGs, STEM education, reform issues in education and lesson study addition to the year 2016 project meetings

In relation to these topics, the project meetings will provide the necessary opportunities to learn from the UNESCO-MGIEP and SEAMEO for APEC economies’ welfare. On this demands, the Tokyo meeting on February, 2017, is co-hosted by UNESCO (MGIEP) and set the back to back meeting with SEAMEO Secretariat.

img-20170208-wa0005-2

20170212_085017

img-20170211-wa0036

Back to Back Meeting: SEAMEO-University of Tsukuba Symposium V SEAMEO Priority Areas and Collaborations

This Back to Back Meeting activity was hosted by University of Tsukuba and co-hosted by Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) and Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT), Japan

Rationale

On the establishment of ASEAN community, SEAMEO proposed seven priority areas for ASEAN educational reform until the year 2035, and began several projects for the first 5 years of reform. Some of the participating institutions on APEC Lesson Study Projects adopted the experience of APEC project and contributed to the SEAMEO Projects. This symposium will be held as the back to back meeting on APEC-Tsukuba and UNESCO (MGIEP) International Conference. The participants will learn the educational reforms of ASEAN for contributing to the other international organizations such as UNESCO and APEC.

These are the Conclusions of both Activities 

  1. Imagine the future of our nations, economies or countries. Our focus must be on our students and mathematics classes. It imply that the questions can be aroused are: What kinds of: (1) Mathematical knowledge, (2) Mathematical skills and (3) Mathematical attitudes are needed by our young generation to survive in the 21st Century and beyond? The next question was how to help Mathematics Teachers in our countries or in our economies?
  2. Lesson Study, Textbook Development for SDGs, STEM, Energy by Cross-border Education and the 7 SEAMEO Priority Areas can be used to innovate and boost Mathematics Educator in APEC economies to help Mathematics Teachers in helping their children to be independent, so that they able to find issues by their self, to make decisions independently and to act. So that each child or student can solve problems more skillfully, regardless of how society might change in the future.

These are the Recommendations

  1. The Indonesian Scientific Approach (MoEC, 2013), which consists of 5 steps: (1) Observing, (2) Questioning, (3) Reasoning, (4) Collecting data or experimenting and (5) Communicating can be supported by the Japanese Problem Solving Approach (PSA) which consists of 4 steps as: (1) Problem Posing, (2) Independent Solving, (3) Comparison and Discussion and (4) Summary and Integration. Based on our experience in SEAMEO QITEP in Mathematics, the first step of PSA, namely ‘Problem Posing’ was an important steps. The reason was, our students can be facilitated to implement the Scientific Approach that has been proposed by MoEC of Indonesia.
  2. In helping our students, SEAMEO Centers can implement ‘PSA’, so that the students can be facilitated to find issues by their self, to make decisions independently and to act. So that each child or student can solve problems more skillfully, regardless of how society might change in the future.
  3. In helping our mathematics teachers, SEAMEO Centers can implement ‘LS or Lesson Study’, so that each mathematics teachers can be facilitated to find issues by her/him self, to make decisions independently and to act. So that each mathematics teachers, can solve problems more skillfully, regardless of how the problems of mathematics teaching  and learning might change in the future. Learn from the Japanese educators, the discussion should be based on the strengths/advantages that can be encouraged and also should be based on the weakness/disadvantages that can be diminished.
  4. The current issues and trends of SDGs, STEM, Energy by Cross-border Education and SEAMEO Priority Areas must be taken into account in facilitating our young generations. SEAMEO Center should provide ‘real example’ of ‘ideal’ Mathematics teaching process in Mathematics classes, such as Lesson Plan, Video, Open Lesson and Text-Books.
  5. The need of radical change on the nature of examination and on the pre-services system to ensure that every stakeholder can help learners to be independent in his future regardless of how society might change in the future.
  6. Based on the experience of Japanese experts in pioneering and developing the successful of ‘Problem Solving Approach’ and ‘Lesson Study’, it would be better if we work together with Japanese experts and educators in helping students and Mathematics Teachers. It is recommended that the relation between SEAMEO and CRICED, the University of Tsukuba can be tightened for our future need and our nation prosperity.

Note:

All of the PowerPoint Keynotes and Discussion. can be downloaded also from:

http://www.criced.tsukuba.ac.jp/math/apec/ or

http://www.criced.tsukuba.ac.jp/math/apec/apec2017/

These were the PowerPoint Discussion from Fadjar Shadiq

2017-fjr-seameo-tsu-symposium-v

These were the PowerPoint Keynotes and Discussion.

maitree keynote

mochizuki keynote

musafir keynote

seameo keynote ethel pdf

carl keynote

apec-wagner-pdf

apec keynote eddy

wongtrangan keynote

seameo kamal keynote

seameo keynote wahyudi

seameo keynote triyanta

seameo keynote quan

ivan discussion

ulep discussion

jahanandnur presentation

nurjahan lesson plan

Februari 17, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

How Can SEAMEO QITEP in Mathematics Help Indonesian Mathematics Teachers to Help Their Students to be Independent Learners in the Case of Disaster Risk Reduction (DRR)?

This article has been published on SEAMEJ (Southeast Asian Mathematics Education Journal) 2016. The SEAMEJ Year 2016 is published by Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEORegional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (QITEP) in Mathematics, Yogyakarta, Indonesia. The SEAMEJ 2016 (pages 3 – 18) can be downloaded from:

https://fadjarp3g.files.wordpress.com/2017/01/seamej_2016.pdf

Other editions of  SEAMEJ can be downloaded from:

https://fadjarp3g.wordpress.com/seamej-southeast-asian-mathematics-education-journal/

Januari 18, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

INVESTIGASI ATAU EKSPLORASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Bagian Pertama)

Naskah ini sudah dimuat di Majalah LIMAS (PPPPTK Matematika) Edisi Nomor 35, November 2016. Jika Anda berminat membacanya secara lengkap, klik pada kata berikut:

16-2-eksplorasi-investigasi-limas-1

Jika Anda ingin memberi komentar dan saran, sudilah mengklik pada judul di atas, tunggu sebentar, lalu ketik pada tempat yang disediakan di bawahnya’.

Januari 9, 2017 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Pertemuan dengan Tim Inovasi

Pada hari Jumat, 9 Desember 2016 pukul 14.00 siang, telah diadakan pertemuan antara Tim INOVASI yang terdiri atas:

  1. Prof. Fasli Jalal, Strategic Advisor INOVASI diwakili oleh Ibu Wita Krisanti, Wakil Direktur Program.
  2. Cici Tri Wanita, Education Officer INOVASI
  3. Maya Augustin, Program Assistant INOVASI

Saya termasuk tim SEAMEO QITEP in Mathematics;

Sedangkan topik bahasan/informasi yang ingin kami diskusikan adalah:

  1. Fokus dari program-program pelatihan guru di bidang Matematika yang telah dilaksanakan oleh SEAMEOQITEP in Mathematics dalam 5 tahun terakhir.
  2. Program-program pelatihan guru di bidang Matematika yang paling efektif yang berkontribusi pada peningkatan pengetahuan, keterampilan dan profesionalisme guru.
  3. Mekanisme implementasi program-program pelatihan guru.
  4. Narasumber utama untuk setiap fokus program pelatihan guru di bidang Matematika.
  5. Informasi tentang program-program pelatihan guru untuk Penilaian Formatif (formative assessment), termasuk mekanisme implementasi program pelatihan dan narasumber program pelatihan.
  6. Kemungkinan kerjasama di masa depan.

Berikut ini adalah power point paparan tim SEAMEO QITEP in Mathematics.

1-2016-Tim Inovasi dan Tim QiM-PowerPoint-9-des

Desember 10, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

What Can We Learn from the Australian ELPSA, the Indonesian SA and the Japanese PSA? Experience of SEAMEO QITEP in Mathematics

SEAQiM conducted its International Symposium on Mathematics Education (ISMEI) during 1 to 3 November 2016. This forth symposium focused on a theme “Issues and Challenges in 21st Century Mathematics Education: Working towards Meaningful Teaching and Learning”. Realizing the importance of this biannual events, SEAQiM invited five mathematics experts as the keynote speakers. They were Associate Professor Allan White from the University of Western Sydney, Assistant Professor Maitree Inprasitha from the University of Khon Kaen, Professor Tom Lowrie of the University of Canberra, Professor Mohan Chinnappan from the University of South Australia, and Dr. Thien Lei Mee from SEAQiM’s sister Centre, SEAMEO RECSAM. The symposium was event more and more alive since it was attended by approximately 150 mathematics teachers, lecturers, students, and policy makers.

Fadjar Shadiq also participated on this occasion by presenting his paper. Please find his paper and also his power point.

1-2016-Fjr-ismei-elpsa-PowerPoint-Ok

2-ismei_Abstract_Fjr-Ok

3-ismei_Full_Paper_Fjr-ok

Desember 6, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Beberapa Tulisan Pak Soleh (3)

Berikut ini adalah tulisan terbaru Pak Soleh. Pak Soleh, lengkapnya Drs. Moh Soleh, M.Ed., mantan Instruktur Nasional PKG (Pemantapan Kerja Guru) Matematika, region Jakarta mantan Pengawas di DKI Jakarta. Beliau mendapat gelar M.Ed dari University of Bristol (UK).

Saya pernah satu kamar dengan Pak Soleh waktu kita mengikuti diklat di University of Bristol. Berkait dengan acara TV beliau suka acara Drama sedang saya suka acara Olah Raga. Ketika hari Sabtu, beliau ingin acaranya drama sedangkan saya ingin acaranya Olah Raga, yaitu sepak bola, waktu itu yang ditayangkan liga Italia. Jadilah kita rebutan acara TV. Akhirnya didapat kesepakatan tidak tertulis, bahwa untuk acara Olah Raga, yaitu sepak bola liga Italia, kita melihat acara  Olah Raga yang ditayangkan tersebut, selebihnya saya mengalah untuk melihat film drama.

Beliau juga produktif menulis tentang Islam dikaitkan dengan Matematika. Tulisan beliau enak dibaca dan perlu. Selamat menikmati.

Berikut ini adalah pengantar untuk tiga tulisan pertama:

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
 Akhwan dan akhwat, sahabat tercinta.
 10 Rabiul awal ini genap umurku 70 tahun secara tahun hijriah. Aku ingin berbagi  pengalaman hidupku.
 Pengantar
 Tulisan ini terinspirasi oleh WA seorang teman yang memuat do’a “barakallahu fi ‘umurak,  hamdan wa syukron ‘ala ni’matillah”, Tulisan ini sebagai wujud syukurku atas karunia Allah swt  dalam hidupku.  Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maha Pemelihara, Maha Luas  Pemberiannya. Aku merasakan “tangan” Allah membimbingku dalam perjalanan hidup ini.
 Tujuan kedua, saya ingin mewariskan nilai-nilai kehidupan Islami, untuk keturunan dari  kerabatku, atau siapa saja yang orangtuanya adalah sahabatku. (Astaghfirullah, Semoga Allah  menjauhkan sifat riya dan sum’ah, lillahi taala untuk watawa shaw bil haq watwa shaw bis  shshabri)
 Nilai-nilai itu antara lain:
 Masa Kecil
  • Pengembangan diri dengan kreatif: membuat alat permainan  sendiri.
  • Bersahabat dengan alam. Alam pun membalas dengan keberkahan.
  • Pergaulan sosial yang tulus, tolong menolong, gotong royong.
 Masa Sekolah
  • Potensi diri dikembangkan secara terpadu: Intelektual, emosi dan akhlak
  • Kepatuhan kepada orang tua dan guru membawa berkah kepandaian
  • Keterbatasan biaya, tidak menjadi penghalang untuk maju
 Masa berkarya
  •  Bidang karir kita sudah diatur oleh Allah.
  • Allah membukakan jalan, jika hambanya berusaha dan berdoa.
  • Pertolongan Allah datang melalui orang-orang yang tak terduga
  • Mensyukuri nikmat pekerjaan, bekerja dengan ikhlas, sungguh sungguh dan tawakkal, akan meningkatkan karir
  • Prestasi kerja tetap diupayakan secara profesional, dan tidak perlu dikejar dengan cara-cara tak terpuji.
 Semua nilai-nilai itu saya hayati dan akhirnya saya nikmati hasilnya. Alhamdulillah.     Semoga  Allah swt memberkati  keturunan kita. Amin.”
2017 ISRA DAN MI’RAJ
2017 REFLEKSI KEMENANGAN
 2017-parasit-aqidah
 2017-wa-makaru
 2017-mensyukuri-pernikahan
 2016-70-tahun

2016-mahyaya

2016-temu-kangen-edisi-3

2016-rabb-ku-memanggil

2016-memaknai-peristiwa-masa-lalu-dan-masa-depan

2016-Pendidikan Nilai dan Karakter Matematika-komik

September 9, 2016 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar